Top
    bla_semarang@kemenag.go.id
024 7601327
Tradisi Lisan sebagai Pendidikan Karakter

Tradisi Lisan sebagai Pendidikan Karakter

Jumat, 11 Mei 2018
Kategori :
157 kali dibaca

Nilai itu abstrak, demikian pula dongeng. Tetapi bagaimana muncul dalam perilaku, itu perlu dilihat kembali. Bagaimaana tradisi lisan bisa mempengaruhi pendidikan karakter. Bukan interkoneksi, tetapi bagaiamana bisa ‘dimanfaatkan’ dalam pendidikan karakter. Karena pertemuannya tidak mudah.

Hal itu disampaikan Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil dalam kegiatan “Seminar Hasil Penelitian Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Lisan di Bali,” di Grand Wahid Salatiga, 07 s/d 09 Mei 2018. Heddy menambahkan, jika orang dapat nilai-nilai, tidak serta merta mewujud menjadi perilaku. Semisal, taat lalu lintas bukan karena terpengaruhi nilai baik buruk, tetapi sudah ada reword dan punishmen yang mewujudkannya.

Heddy menegaskan makna tradisi lisan, betulkah yang kita tangkap ini sama dengan yang ditangkap oleh orang Bali. Makna yang disampaikan ini makna dari penelitian atau dari orang yang diteliti.

“Tradisi lisan konseptualnya perlu kuat. Implikasi yang tidak mudah. Lokasi Bali, tradisi Bali, bahasa Bali, ini pentingnya antropologi bahasa” ungkap Guru Besar Ilmu Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Kegiatan ini dikuti 29 peserta yang terdiri dari perwakilan, Kementerian Agama, Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang, dan perguruan tinggi Negeri atau swasta. Kegiatan tersebut menghasilkan rekomendasi diantaranya. Pertama, Dinas Pendidikan Provinsi Bali dan Kementerian Agama Provinsi Bali perlu mendukung pengembangan dongeng dan permainan sebagai kegiatan ektra kurikuler pada sekolah tingkat PAUD, TK dan SD serta memasukkan materi tradisi lisan dalam pelajaran muatan lokal dan perlu memberikan pengetahuan dan keterampilan mendongeng melalui kegiatan workshop dan perlombaan.

Kedua, Perlunya pelestarian dan pengembangan dongeng dan kesenian bermuatan pendidikan karakter guna membentuk pribadi generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan alam. Ketiga, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali perlu mendukung pelestarian lontar sebagai salah satu sumber sejarah tradisi lisan, penggunaan tingkat tutur Sor Singgih (bahasa halus Bali) dan tradisi kesenian kolaborasi Hindu-Muslim. 


Sumber : Balai Litbang Agama Semarang

Penulis : Fathurozi

Editor : Fathurozi

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP