Top
    bla_semarang@kemenag.go.id
024 7601327
Sinkretisme Strategi Budaya untuk Menjaga Harmoni

Sinkretisme Strategi Budaya untuk Menjaga Harmoni

Selasa, 25 Agustus 2020
Kategori : berita
811 kali dibaca

Seri Webinar Balai Litbang Agama (BLA) Semarang yang ke-7 mengangkat tema “Menyoal Sinkretisme dalam Naskah Kuno Nusantara”. Webinar yang digelar secara live melalui aplikasi Zoom Meeting dank anal YouTube BLA Semarang pada tanggal 25 Agustus ini diikuti sekitar 500 peserta.

Webinar ini menghadirkan Dr. Muhammad Abdullah (Dosen Undip) dan Drs. Roch Aris Hidayat (peneliti BLA Semarang). Keduanya mengulik fenomena sinkretisme yang bertebaran di dalam naskah-naskah kuni di nusantara.

Aris Hidayat mengatakan, agama dan budaya selalu bersinggungan di masyarakat yang akhirnya kadang-kadang terjadi benturan. Meskipun sebenarnya ajaran agama tidak ada muatan yang bersifat destruktif.

“Namun kenyataannya di masyarakat ada upaya-upaya yang tidak setuju dengan adat dan tradisi. Kita perlu menyadari bahwa masyarakat kita tidak homogen atau tunggal, tetapi ada keragaman. Keragaman inilah yang perlu kita jaga di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Aris.

Dijelaskan, dalam konteks naskah dia menemukan salah satu naskah di museum Lambung Amangkurat, Banjarbaru. Di sana saya menemukan satu naskah yang berjudul sastra mistik. Isinya amalan keagamaan Islam yang bersifat mistik, mencakup amalan berhubungan dengan Tuhan dan makhluk Tuhan, khususnya Jin.Amalan hubungan manusia dengan Tuhan bersifat sufistik, coraknya wahdat al-wujud. Amalan hubungan manusia dengan jin bersifat mistik, menggambarkan kedekatan manusia dengan jin,” kata Aris.

Aris menambahkan, pengalaman mistik dalam Sastra Mistik bersifat pribadi (subjektif), unik, dan sinkretis. Pengalaman ini bersifat pribadi karena merupakan pengalaman pengarang sendiri.

“Unik karena pengalaman mistik itu tidak ditemukan pada teks yang lain, dan perilaku mistik yang dilakukan bersifat khas. Sinkretis karena memadukan antara doa-doa Islami dengan perilaku mistik dari tradisi leluhur yang dipertahankan,” kata Aris.

Menanggapi sinkretisme dalam naskah kuno di Nusantara, Muhammad Abdullah memang melihat adanya friksi dan dikotomi dalam memosisikan agama dan budaya. Semua persoalan dikotomis terkait sinkretisme budaya Jawa sinkretisme itu sebenarnya tujuannya jelas, bahwa pujangga, penguasa, dan politisi, punya tujuan tertentu untuk menghadapi kekuatan Islam pada saat itu.

“Friksi-friksi itu wujud dari benturan paradigma, yang berpengaruh pada agama, budaya, dan politik. Namun sebenarnya secara umum Islam tidak mau menggeser nilai-nilai budaya Jawa.

Pandangan manusia terhadap agama itu berbeda beda. Agama dilihat sebagai sistem keyakinan, ideologi politik, sosial kemasyarakatan, konsep iptek, pengalaman batin, dan agama dilihat sebagai budaya,” kata Abdullah.

Lebih lanjut, Abdullah mengatakan bahwa mistik islam atau sinkretisme adalah perpaduan nilai-nilai agama dengan –isme isme lokal atau isme-isme Jawa yang lahir sebelum Islam. Dalam konteks Indonesia lahirlah Islam Kejawen.

“Terjadinya sinkretisme bukan tanpa alasan, itu adalah strategi kebudayaan untuk menjaga keharmonisan antara agama dan nilai yang ada,” kata Abdullah.


Sumber : Balai Litbang Agama Semarang

Penulis : Musyafak

Editor : Musyafak

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP