Top
    bla_semarang@kemenag.go.id
024 7601327
Peneliti: Dibutuhkan Pendampingan Dasar Agama Kuat untuk Cegah Intoleransi Kalangan Remaja

Peneliti: Dibutuhkan Pendampingan Dasar Agama Kuat untuk Cegah Intoleransi Kalangan Remaja

Selasa, 22 September 2020
Kategori : berita
119 kali dibaca

SEMARANG - Isu intoleransi beragama di Indonesia masih menjadi hal yang harus diperhatikan. Maraknya intoleransi membuat pemerintah terus bekerja untuk menanggulangi hal itu.

Satu di antara cara untuk mencegah terjadinya intoleransi yakni dengan memberikan pendidikan keagamaan bagi siswa sekolah, khususnya usia sekolah menangah atas atau remaja.

Maraknya isu intoleransi yang terjadi di kalangan remaja membuat Kementerian Agama (Kemenag) menunjuk penyuluh agama sebagai mentor untuk menyampaikan pemahaman agama, khususnya islam dengan penekanan islam yang rahamatan lil alamin.

Peneliti Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Balai Litbang Agama Semarang, Lilam Kadarin Nuriyanto menyampaikan, tugas dan fungsi penyuluh yang merupakan pejabat yang diberi tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan bimbingan keagamaan dan pembangunan melalui bahasa keagamaan.

"Jadi, secara psikologis remaja masih dalam masa pertumbuhan. Mereka sedang mencari identitas diri, sehingga emosionalnya masih labil. Maka, dibutuhkan pendampingan dasar agama yang kuat," ungkapnya, Selasa (22/9/2020) dalam Webinar bertema Mendampingi Remaja Belajar Agama di Sekolah dan Rumah.

Dia menuturkan, remaja muslim diharapkan memiliki akidah islam yang kuat dengan mencintai agamanya. Hal itu bisa diraih dengan cara mempelajari agama islam secara komprehensif.

"Selain itu, diharapkan melalui pembelajaran agama islam secara komprehensif itu ada penguatan sikap dan faham toleran terhadap multikultur. Hal itu sangat perlu bagi remaja agar mereka memiliki sikap positif terhadap keragaman agama," jelasnya.

Dia mengungkapkan, pengaruh sikap yang intoleran itu dikarenakan beberapa hal di antaranya media sosial dan pemahaman agama yang kurang memadai.

"Ketika mereka menerima sebuah faham yang kurang toleran akan mudah masuk karena tidak mempunyai cukup modal untuk memfilternya," terangnya.

Dia mengungkapkan, jalur pendidikan merupakan sarana strategis untuk untuk penyebaran faham keagamaan melalui sarana kegiatan kegamaan.

"Penguatan sikap toleransi bagi remaja di sekolah ini merupakan amanat Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan," tandasnya. (*)

Sumber

 

 

 

 


Sumber : Blasemarang - Tribun Jateng

Penulis : Muhammad Sholekan

Editor : blas

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP