Top
    bla_semarang@kemenag.go.id
024 7601327
Kurikulum Sekolah Islam Terpadu Kaya Pengetahuan dan Pengamalan Agama

Kurikulum Sekolah Islam Terpadu Kaya Pengetahuan dan Pengamalan Agama

Selasa, 14 Juli 2020
Kategori : berita
105 kali dibaca

Balai Litbang Agama (BLA) Semarang kembali menggelar kegiatan webinar. Pada seri ke-4, webinar mengangkat topik “Implementasi Kurikulum PAI pada Sekolah Islam Terpadu”. Webinar ini diselenggaran secara live/online melalui peranti Zoom Meting dan saluran YouTube BLA Semarang.

Dalam kesempatan ini Aji Sofanudin dan Marzuki Aubakar didapuk menjadi narasumber. Aji Sofanudin selaku peneliti BLA Semarang memaparkan temuan risetnya yang dilakukan terkait sekolah Islam terpadu di Kab. Tegal pada tahun 2018.

Aji mengatakan, kemunculan sekolah Islam terpadu mulanya di masyarakat perkotaan. Tetapi akhirnya menjadi tren yang menggejala di banyak kawasan. Tak terkecuali di Tegal, penyelenggara pendidikan juga banyak yang menggunakan brand “Islam Terpadu” (IT). Saya menemukan paling tidak ada 8 sekolah Islam terpadu. Aji sendiri kemudian spesifik meneliti SMP IT Luqman Al-Hakim, SMP IT Al-Azhar, dan SMP IT Bimantara Al-Furqon.

“Muatan isi pada sekolah ini banyak memuat agama, pengetahuan agamanya banyak daripada sekolah negeri. Pengamalan agamanya juga banyak, mulai dari shalat, puasa senin-kamis, tilawah, tahfidz, ini menjadi habit. Inilah yang menjadi ciri sekolah IT,” kata Aji.

Aji menambahkan, sekolah IT menjadi tren dalam sepuluh tahun terakhir. Sekolah ini banyak diminati karena memiliki boarding (pesantren).

Aji menambahkan bahwa pada hakekatnya sekolah IT adalah sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan Islam berlandaskan Al-Qur’an dan As Sunnah. Mapel yang diajarkan tidak lepas dari bingkai ajaran dan pesan nilai Islam; tidak ada dikotomi ilmu.

“Pelajaran agama diperkaya dengan pendekatan konteks kekinian dan kemanfaatan, dan kemaslahatan. Di dalam SIT terdapat pengayaan pendidikan agama di sekolah (mirip madrasah)

Temuan di lapangan bahwa muatan isi kurikulum agama pada SIT lebih banyak dibandingkan dengan sekolah negeri (pengetahuan agama). Siswa di SIT juga bebih banyak “pengamalan agama” seperti sholat berjamaah, puasa sunnah, tilawah, dan pembiasaan ibadah. Ada beberapa varian SIT meskipun sama-sama berlabel sebagai sekolah islam terpadu,” katanya.

Memperkuat temuan riset tersebut, Marzuki Abubakar, Dosen UIN Ar-Raniry, mengatakan bahwa integrasi  ilmu yang paling modern sekarang ini paling tidak bisa dilhat dari munculnya sekolah islam terpadu (SIT). SIT yang menciptakan sekolah dengan pengintegrasian antara ilmu umum dan ilmu agama adalah bentuk integrasi. Di mana ilmu agama dan ilmu umum dipandang sama-sama penting.

“Ada beberapa bentuk SIT, yakni 1) pesantren modern; pesantren dengan kurikulum modern, percampuran antara ilmu umum dan agama. 2) Pesantren Terpadu; pesantren yang mengadakan sekolah dilingkungan pesantren, peserta didik mendapatkan dua ijazah, yaitu sekolah dan pesantren. 3) Sekolah Terpadu: Sekolah umum yang memberikan prioritas Pendidikan agama dalam kurikulumnya. 4) SD-IT, SMP-IT, SMA-IT. 5) Sekolah Madrasah; 6) MI, MTs, MA; 7) Diniyyah di Sekolah Umum,” kata Marzuki.


Sumber : Balai Litbang Agama Semarang

Penulis : Musyafak

Editor : Musyafak

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP