Top
    bla_semarang@kemenag.go.id
024 7601327
Hasil Penelitian Balitbang Agama: Kemenag Harus Dorong Pemanfaatan Dakwah di Digital

Hasil Penelitian Balitbang Agama: Kemenag Harus Dorong Pemanfaatan Dakwah di Digital

Rabu, 24 November 2021
Kategori : berita
22 kali dibaca

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Hasil penelitian yang dilakukan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang (BLAS), Kementerian Agama (Kemenag), masih sedikit ulama moderat yang menggelorakan moderasi beragama di wilayah digital terutama media sosial.

Kepala BLAS Kemenag, Samidi mengungkapkan, yang terjadi justeru sebaliknya yakni menyuarakan pemahaman beragama dengan keras dan cenderung radikal. Hal itu diungkapkannya dalam Diseminasi Hasil Penelitian di Hotel Pandananaran, Rabu (24/11/2021)

“Kami melihat di medsos ulama yang gelorakan indikator moderasi beragama masih sangat sedikit,” katanya.

Dari studi agama dalam internet, lanjut Samidi, sejauh ini dapat dikatakan menyatakan tiga hal. Pertama, agama telah termediasi dari realitas empiris menjadi realitas virtual, juga bahwa pembelajaran agama tidak selalu melalui tokoh atau ahli agama. Kedua, internet telah mengubah ruang agama menjadi demokratis sehingga publik dapat terlibat aktif dalam pembentukan makna realitas agama. Ketiga, agama menjadi alat propaganda sekaligus objek yang diproduksi dan dikonsumsi publik sehingga pemeluk agama dilibatkan dalam kepentingan sistemik media.

Tapi dari penelitian yang dilakukan, terdapat 7 tokoh yang diteliti dan sosoknya menjadi idola di media sosial serta menggelorakan moderasi beragama.

KH Maruf Khozin berkarakter fikih kontekstual, Hj Kharisma Yogi Yoviana berkarekter gender dan budaya, Achmad Dzofir Zuhri berkarakter tafsir, KH Ahmad Muwaffiq atau Gus Muwafiq berkarakter sejarah dan budaya. KH Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah berkarakter urban millennial dan sosialita, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus berkarakter budayawan, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha berkarakter tafsir, fikih dan tradisionalis.

Samidi menjelaskan, wacana yang diusung dan diproduksi ulama-ulama yang dikaji dalam penelitian ini adalah wacana moderasi beragama. Latar belakang keilmuan dan sosio kultural masing-masing ulama memberikan andil dalam corak dakwah yang disajikan.

“Yang terjadi, banyak ulama yang belum memiliki tim untuk menggelorakan moderasi beragama di medsos,” katanya.

Pihaknya merekomendasikan, peran penyuluh Kemenag perlu semakin ditingkatkan. Demikian pula, perlu memberikan dan menyebarkan pengetahuan terkait peran ulama moderat di Indonesia kepada anak didik di berbagai jenjang Pendidikan.

Kemudian, pemerintah melalui Kemenag juga perlu menambah dukungan kepada para ulama moderat dan pondok pesantren untuk lebih aktif memproduksi wacana moderasi di media online.

“Instansi Keagamaan Islam mainstream (NU dan Muhammadiyah) serta MUI, perlu dihimbau untuk meningkatkan pemanfaatan dakwah di media online, membentuk dan mendampingi SDM yang cakap dalam media, serta memberikan motifasi kepada para pendakwah moderat yang kurang berani memberikan counter wacana,” tegas Samidi.

Sementara itu, Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh yang hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut mengungkapkan, perbedaan merupakan keniscayaan.

Perbedaan mestinya tidak menjadi pemicu kerusakan melainkan saling melengkapi. Sebab manusia diciptakan untuk berbeda. “Moderasi beragama ini harus kita suarakan tidak hanya di Indonesia tapi juga internasional. Sebab moderasi tidak terbatas. Maka, kita harus jadi pelopor moderasi di kancah internasional,” ungkapnya

 

Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Hasil Penelitian Balitbang Agama: Kemenag Harus Dorong Pemanfaatan Dakwah di Digital, https://jateng.tribunnews.com/2021/11/24/hasil-penelitian-balitbang-agama-kemenag-harus-dorong-pemanfaatan-dakwah-di-digital.

Penulis: m nur huda | Editor: m nur huda


Sumber : Tribunnews Jateng

Penulis : M. Nur Huda

Editor : M. Nur Huda

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP