Top
    bla_semarang@kemenag.go.id
024 7601327

Guru Agama Punya Peran Vital

Minggu, 7 Desember 2014
Kategori :
96 kali dibaca

SEMARANG – Peran guru agama tak sebatas memperkuat kepercayaan yang dianut siswa-siswi di sekolah. Lebih dari itu, mereka strategis menebar dan menanamkan benih-benih perdamaian. Guru leluasa memberikan pemahaman agar pemeluk agama menghormati satu sama lain.

”Sekolah menjadi garda terdepan dalam menanamkan benih-benih perdamaian. Jangan dianggap enteng peran guru agama, yang secara berkelanjutan mendidik siswa-siswi memahami ajaran agama dengan benar,” tutur Sekretaris Balitbang Diklat Kemenag Dr Rahmat Mulyana, selaku pembicara kunci Dialog Pendidikan Multikultur bagi Guru Pendidikan Agama tingkat SLTA, di Balai Diklat Kemenag, Banyumanik, Semarang, Minggu (7/12).

Forum ini diikuti sedikitnya 50 guru agama dari berbagai sekolah di eks Karesidenan Semarang.

Ditambahkannya, murid-murid di bangku sekolah penting mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tata cara pandang kehidupan multikultur. Melalui pemahaman ini, para siswa akan mudah menerapkan nilai-nilai kebersamaan dan kehidupan yang damai, baik di sekolah maupun di lingkungan.

Minim Pemahaman

”Ini tak lepas dari masih seringnya muncul letupan-letupan persoalan sosial di masyarakat. Bisa jadi itu juga akibat minimnya pemahaman dan cara pandang kehidupan multikultur,” imbuh dia.

Pemahaman cara pandang kehidupan multikultur menjadi elemen penting dalam membangun kehidupan beragama yang lebih damai. Mencakup di dalamnya menjaga wawasan kebangsaan.

Dengan pemahaman dan cara pandang yang benar, generasi muda bisa membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis, menghargai dan tidak saling bermusuhan dalam keberagaman.

Dialog untuk para guru dari lintas agama menjadi sangat vital. Panitia dialog, Drs Wahab MPd, menyatakan forum ini tak akan berhenti pada obrolan antarpeserta.
”Mereka telah merumuskan rekomendasi dalam rangka menjaga perdamaian sekaligus keutuhan NKRI. Melalui dialog ini juga para guru kian memahami pentingnya nilai- nilai multikultur,” tuturnya.

Diakui, perbedaan agama masih manjadi sesuatu yang sensitif. Persoalan- persoalan  berbasis perbedaan keyakinan bahkan masih rawan tersulut. Peran dunia pendidikan sedemikian penting membangun nilai-nilai kerukunan dan keharmonisan dalam beragama. (H41-43)


Sumber : Suara Merdeka

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP