Top
    bla_semarang@kemenag.go.id
024 7601327
Belajar Kerukunan pada Masyarakat Tengger

Belajar Kerukunan pada Masyarakat Tengger

Jumat, 12 Februari 2016
Kategori :
108 kali dibaca

Semarang (12 Februari 2016). “Kearifan lokal” menjadi salah satu ungkapan yang mendapat perhatian khusus dalam “dunia” kerukunan umat beragama. Jika dimasa pemerintahan Orde Baru pemeliharaan kerukunan diwujudkan melalui konsep trilogikerukunan yang terdiri dari: kerukunan intern umat seagama; kerukunan antar umat berbeda agama; dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah, pasca pemerintahan yang berkuasa saelama lebih dari 30 tahun terebut, konsep pemeliharaan kerukunan mengalami pengayaan metode. Salah satunya adalah melalui konsep “kearifan lokal”.

Dalam pandangan Joko Tri Haryanto, Peneliti pada Balai Litbang Agama Semarang, konsep “kearifan lokal” yang banyak terebar di Indonesia menjadi salah satu alternatif dalam mewujudkan kerukunan secara bottom up.

Kearifan lokal sebagai tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, diyakini memiliki tingkat efektifitas yang tinggi untuk mewujudkan dan memelihara kerukunan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Joko pada masyarakat di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Dalam penelitian Joko yang ditulis dalam laporan penelitian berjudul “Kearifan Lokal Pendukung Kerukunan Beragama pada Komunitas Tengger Malang, Jatim”. Dalam laporannya, ia mengidentifikasi bahwa masyarakat Desa Ngadas yang berada di lereng pegunungan Tengger dihuni oleh masyarakat multi agama. Setidaknya terdapat tiga agama yang dipeluk oleh masyarakat Desa Ngadas, yaitu Islam, Hindu, dan Buddha. Namun demikian, meskipun masyarakatnya multi agama, tetapi kerukunan diantara mereka tetap terjaga dengan baik.

Terdapat dua faktor utama yang mendukung terjalinnya kerukunan masyarakat lokal.Pertama, adanya kepercayaan masyarakat bahwa mereka merupakan makhluk social yang memiliki banyak ketergantungan, baik ketergantungan dengan alam, ketergantngan dengan manusia lain, maupun ketergantngan dengan hal-hal yang ghaib dan adikuasa. Dari kepercayaan ini, lahir berbagai tradisi dan upacara adat yang secara turun temurun terus dilestarikan, diantaranya adalah tradisi “gentenan”, Upacara Pujan, tradisi karo, dan berbagai tradisi dan upacara lainnya.

Faktor kedua, adanya pengetahuan tentang tatakrama dalam berinteraksi sosial. Tatakrama inilah yang dipegang teguh oleh masyarakat Desa Ngandas dalam berinteraksi diantara mereka

Selanjutnya, bagaimanakah kehidupan keseharian masyarakat Desa Ngandas, adat istiadat serta budaya yang mempengaruhi kerukunan diantara mereka, silahkan disimak laporan penelitian Joko Tri Haryanto yang dimuat di Jurnal Analisa, Vl 21 No. 2 (2014). Silahkan diunduh di sini


Sumber : Balai Litbang Agama Semarang

Penulis : Arif Gunawan Santoso

Editor : Arif Gunawan Santoso

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP