Diperlukan Teladan Literasi

0
62

Jember (11 Februari 2020). “Guru harus menjadi teladan literasi, apalagi di tengah berbagai keterbatasan sarana pendukung praktik literasi.” Demikian yang disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember, Muhammad, saat menjadi narasumber dalam acara Focus Group Discussion (FGD/Kelompok Diskusi Terpumpun) diseminasi hasil penelitian bidang lektur, khazanah keagamaan, dan manajemen organisasi, pada 11 Februari di Hotel Royal Jember.

Praktik literasi—termasuk literasi media—di Madrasah Aliyah berbasis pesantren memang memiliki berbagai tantangan dan hambatan, yakni seperti sarana dan prasana yang masih minim. Namun hal itu, sebaiknya tidak menjadi kendala bagi para guru untuk memotivasi siswa atau santri untuk mencari dan mengembangan literasi di segala bidang. “Hal tersebut harus bermula dari guru itu sendiri,” lanjut Muhammad.

Selain itu yang paling penting sekarang adalah menjadikan praktik literasi menjadi terintegrisasi dengan pembelajaran, sehingga semua guru memiliki kesadaran tentang pentingnya literasi dan mendorong dipraktikannya literasi di semua pembelajaran. “Sehingga literasi bukan lagi tugas guru bahasa Indonesia saja, apalagi literasi media yang memerlukan dukungan dari guru-guru di berbagai bidang,” papar Agus Iswanto selaku peneliti yang mempresentasikan hasil penelitian.

Kegiatan diseminasi ini sebetulnya adalah bagian dari tindak lanjut sosialisasi hasil penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang yang telah dilakukan pada tahun 2018. Penelitian tersebut mengambil tema tentang “literasi media di kalangan pelajar Madrasah Aliyah berbasis pesantren. Agus, selaku peneliti, saat itu melakukan penelitian di Madrasah Aliyah Unggulan Nuris Pondok Pesantren Nurul Islam Jember. Selain dihadiri oleh pihak pengawas madrasah dan staf Seksi Pendidikan Madrasah, diseminasi ini juga langsung dihadiri perwakilan dari tempat penelitian.

Literasi media penting bagi kalangan pelajar Madrasah Aliyah (MA) berbasis pesantren, karena seharusnya siswa-siswa atau santri-santri inilah yang mewarnai berbagai wacana keagamaan di media sosial. Menurut Agus, siswa-siswa Madrasah Aliyah berbasis pesantren telah memiliki dua keunggulan, pertama keunggulan pendidikan kultur pesantren yang kuat dengan nilai-nilai karakter, dan kedua keunggulan tradisi keilmuan Islam yang berkualitas. Hal itu akan menambah kekuatan jika mereka juga dibekali dengan literasi media, agar mampu memahami, mengkritisi dan mengevaluasi, serta memproduksi konten keagamaan melalui media sosial yang saat ini banyak memengaruhi pengetahuan dan informasi masyarakat. Untuk itu, tiada lain teladan literasi diperlukan bagi siswa sebagai contoh yang memotivasi mereka dalam mempraktikan literasi media.