Literasi Media dari Kacamata Kaum Milenial

0
63

Kaum Milenial,yang saat ini berada pada usia di bawah 40 tahun (Usia Produktif), juga dikenal sangat aktif dalam kegiatan sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram, Dll. Kaum Milenial merupakan generasi yang memiliki populasi terbanyak di dunia saat ini. Generasi ini memiliki potensi yang luar biasa diantaranya kreatif,inovatif,kritis,dan mampu bekerja sama. Literasi Media menurut Apen Institute’s National Leadership Conference on Media Literacy merupakan kemampuan warga untuk mengakses, menganalisa, dan memproduksi informasi untuk hasil yang spesifik. Dengan begitu generasi muda bisa mengambil peran dalam ruang publik sebagai aktor penjernih informasi di tengah masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Balai Litbang Agama Semarang Dr. Samidi, S.Ag., M.S.I. dalam pemaparan materi kegiatan diseminasi hasil penelitian bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi pada tahun 2018 di Kabupaten Pati selaku narasumber. Acara yang berlangsung di Hotel Safin Pati pada tanggal 10 Februari 2020 ini mengusung tema media literasi keagamaan pada kalangan pelajar madrasah aliyah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Acara turut dihadiri pula kalangan akademisi dan Madrasah tempat dilakukan penelitian 2018 silam.

“Dengan menguasai literasi media, kita bisa menyaring dan menyebarkan informasi yang jernih dan valid kebenarannya. Untuk melek literasi media setidaknya seseorang harus memiliki kemampuan di antaranya adalah collective intelegence, judgement, dan transmedia navigation.” Tambah Samidi.

Penuturan senada juga diungkapkan oleh Kasubbag TU Kankemenag Kab. Pati yaitu Ahmad Syaiku, S.Ag.,M.Pd. yang juga selaku narasumber. Beliau mengungkapkan bahwa hasil penelitian dari Balai Litbang Agama Semarang nanti akan diserahkan ke kantor kementerian agama dan dijadikan regulasi yang mana regulasi itu nantinya harus berbasis riset atau penelitian, supaya datanya valid dan kredibel serta dapat dijadikan acuan nantinya. Beliau juga mengungkapkan generasi milenial saat ini terlahir sebagai generasi yang dibanjiri oleh berbagai media terutama berbasis online. Beliau juga mengungkapkan tentang penggunaan media sosial di kalangan siswa madrasah bak pisau bermata 2.

“Penggunaan internet ada 2 sisi positif dan negatif yang mana harus diawasi dengan ketat supaya tidak terjerumus kedalam hal-hal yang negatif. Sisi positif bisa berupa sarana bisnis,pendidikan,keagamaan,dan juga hiburan, Sedangkan sisi negatifnya berupa penyebaran hal-hal negatif dan hoax. Kelihatannya Pati terlihat aman-aman saja, namun jika ditelisik lebih dalam lagi banyak yang sudah terpapar radikalisme terutama yang belajar agama melalui internet dan bukan melalui jalur pesantren maupun dari ustadz / kyai dan sumber radikalisme paling banyak adalah dari media online.” Ungkap Syaiku. (Ry*)