Membangun Ekosistem Madrasah Literat di Lingkungan Madrasah Aliyah

0
42

“Anak-anak didik kita sebenarnya bahan refrensinya sangatlah banyak, namun yg perlu ditekankan adalah bagaimana merubah budaya membaca supaya ada implementasi ke produk sehingga tulisan anak-anak kita lebih berguna dan bermanfaat bagi dunia luar” ungkap Drs. Siswo Widodo, M. M., Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kab. Ponorogo selaku Narasumber dalam Forum Group Discussion (FGD) Diseminasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang bertempat di lokasi Hotel Amaris Ponorogo, Kab. Ponorogo pada tanggal 5 Februari 2020.

“Salah satunya adalah dengan Gerakan Ayo Membangun Madrasah atau bisa disingkat GERRAM. GERRAM sendiri memiliki 7 komponen yang salah satunya adalah GELEM yaitu Gerakan Literasi Madrasah guna membangun citra madrasah literat. Madrasah literat adalah madrasah yang membangun dan mengembangkan ekosistem penumbuhan budaya literat di lingkungan madrasah secara sistemik dan berkelanjutan menuju masyarakat pembelajar. Ekosistem madrasah literat di madrasah aliyah adalah ekosistem MA yang literat adalah kondisi yang memungkinkan pengembangan sikap dan perilaku kritis serta ilmiah. Jika dulu bagaimana belajar mengoperasikan komputer, maka sekarang adalah lebih kepada bagaimana komputer digunakan untuk belajar” Tambah Siswo.

Pernyataan tersebut diamini Drs. Roch Aris Hidayat, M.Pd. selaku koordinator bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Balai Litbang Agama Semarang. Beliau ingin melihat sejauh mana siswa-siswa menggunakan media literasi keagamaan di sekolahnya. Namun kendala yang ada adalah pembatasan siswa dalam menggunakan media seluler untuk mengakses literasi tersebut dan itu dilakukan hampir di seluruh madrasah. Beliau berpesan untuk tetap dilakukan pengawasan lagi terhadap siswa-siswa dalam menggunakan perangkat elektronik berupa perangkat komputer maupun perangkat seluler.

“Sadar atau tidak sadar, usia anak yang lahir di generasi sekarang ini terkenal dengan generasi milenial dan tidak perlu diajari pun bisa dengan sendirinya bahkan melebihi kita yang generasi lama. Sehingga Proteksi tadi perlu namun kita harus melakukan semacam pengawasan dan edukasi kepada anak supaya tidak kebablasan menggunakan teknologi dalam hal yang negatif dan tidak bermanfaat” Ungkap Aris.

“karena memang persoalan literasi ini memang masalah kita bersama, tidak bisa dibebankan kepada siswa saja atau guru saja,dan pemerintah saja juga tidak bisa, harus ada sinergi dari semua aspek”. Tambah Aris. (Ry*)