Prof Mas’ud: Identitas Muslim Indonesia Ramah dan Moderat

0
21

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof Dr H Abdurrahman Mas’ud mengatakan, identitas muslim di Indonesia itu ramah dan moderat. Oleh karena itu, muslim Indonesia harus terus mempertahankan identitasnya tersebut dengan cara aktif bersuara, seperti di media sosial.

”Hingga kini muslim yang ramah belum terlihat vokal. Sementara di sisi lain, terlihat kelompok minoritas yang radikal, tapi lebih aktif, keras dan lantang, seperti aktif di media sosial. Maka sudah waktunya (yang mayoritas) bersuara, tidak diam, sehingga (kalau diam) tidak tampak dipermukaan,” tegasnya.

Dia mengatakan hal itu dalam Bedah Buku Mendakwahkan Smiling Islam: Dialog Kemanusiaan Islam dan Barat di Hotel Pandanaran Semarang, belum lama ini. Bedah buku yang diinisiasi Balai Litbang Agama Semarang menghadirkan pembicara Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof Dr H Abdurrahman Mas’ud, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Prof Dr H Imam Taufiq, dan Kepala Balai Litbang Agama Semarang, Dr Samidi MSi.

Menurut Mas’ud, fenomena radikalisme yang terjadi bisa disebabkan karena pemahamannya yang keliru terhadapa ayat-ayat Alquran, seperti terhadap Al Quran Surat Al-Baqarah ayat 120 yang terjemahannya berbunyi “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu,” ujarnya.

“Dari ayat ini paling mudah sebuah ayat disalahpahami,” tegas guru besar kelahiran Kudus itu.

Menurutnya, jika memahami ayat di atas berdasarkan teks semata, maka pembaca akan mudah terprovokasi, yakni dengan menjauhi penganut agama Yahudi dan Nasrani.
Sementara pemahaman tersebut, Tegas Mas’ud, tidak tepat karena dalam sejarahanya, Nabi Muhammad membentuk Piagam Madinah (konstitusi pertama dalam sejarah umat manusia), yang berisi tidak hanya muslim, tapi juga penganut Yahudi dan Nasrani.

Buku otobiografi tersebut menceritakan perjalanan hidup Abdurrahman Mas’ud, bagaimana seorang yang datang dari kota kecil di Indonesia, tepatnya di Kabupaten Kudus kemudian bisa kuliah S2 hingga S3 dan tinggal selama delapan tahun di Amerika.

Mas’ud menuturkan, buku itu telah ditulis sejak lima tahun silam. Persisnya saat dia masih menjabat sebagai Kepala Puslitbang Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat periode 2012-2014. Karena ada beberapa hal, akhirnya buku tersebut baru diterbitkan pada 2019.

Menarik Dibaca

Rektor UIN Walisongo Prof Dr Imam Taufiq mengatakan buku tersebut sangat menarik dan cocok dibaca kalangan akademik atau mahasiswa. Karena menceritakan bagaimana perjalanan hidup Prof Abdurrahman yang dari tumbuh lahir di desa, kuliah di Jakarta, kemudian kuliah di Los Angles, Amerika Serikat.

“Karena ini biografi intelaktual akan lebih pas kalau yang membaca buku ini dari kalangan akademik atau mahasiswa. Sehingga bisa menjadi motifasi, bahwa untuk menjadi sukses itu tidak harus orang terlahir dari keluarga berada, tapi kesuksesan dalam sekolah dan karir sampai ke jenjang tertinggi itu sebetulnya bisa dialami oleh semua orang. Tentunya bagi mereka punya kemuan yang keras untuk belajar,” tuturnya.

Menurut pengasuh pondok pesantren Besongo Darul Falah Ngalian Semarang itu, masih banyak sisi menarik dari Prof Mas’ud yang belum diungkap dalam buku tersebut. “Banyak sisi kehidupan Prof Mas’ud yang belum terekspose atau belum tertulis. Dan itu menurut saya menarik juga untuk dipelajari, bagaimana beliau menghadapi kesulitan ketika tinggal di Amerika. Kita tahunya kan beliau sukses dan bisa mengisi kegiatan di beberapa kampus di Amerika, tapi pasti tidak semudah itu, ceritanya pasti penuh perjuangan dan tentunya sangat kerja keras. Termasuk saat beliau menjadi pejabat di Diktis, ini juga tidak diceritakan. Padahal banyak kebijakan positif beliau ambil yang hingga sekarang masih berjalan,” katanya.

Kepala Balai Litbang Agama Semarang, Dr Samidi MSi mengatakan, buku Mendakwahkan Smiling Islam memadukan sisi pemikiran dan pengalaman Prof Mas’ud ketika melakukan studi sampai akhirnya kuliah di Amerika.

“Dalam buku ini, Prof Mas’ud tidak lagi dalam konteks dikotomi keilmuan saja. Saya melihat penulis ini cukup lengkap dari sisi birokrasi, saya banyak belajar dari beliau.” kata Samidi.

Bedah buku dihadiri sekitar 100 orang meliputi para peneliti, akademisi, wartawan serta aktivis ormas keagamaan perwakilan dari NU, Muhammadiyah dan lain-lain.

[https;//suaramerdeka.com, Agus Fathuddin Yusuf, 17 September 2019)