BLA Semarang Dorong Kelas Menengah Muslim Menjadi Agen Moderasi

0
22

Kelas menengah muslim perlu didorong untuk menjadi agen perubahan dalam penguatan moderasi beragama dan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Hal ini disampaikan oleh Zakiyah pada kegiatan Penyusunan Policy Brief dan Executive Summary Penelitian “Moderasi Beragama Masyarakat Menengah Muslim dalam Konstelasi Kebangsaan” di Hotel Pandanaran, Senin 16 September 2019.

Zakiyah selaku ketua tim penelitian tersebut mengatakan bahwa moderasi beragama masyarakat menengah muslim penting untuk dilihat karena gerakan kelompok umumnya memiliki pengaruh besar bagi masyarakat secara umum. Tak kecuali pada gerakan atau aktivitas keagamaan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di 5 kota besar di Jateng, Jatim, dan D.I.Y. ditemukan bahwa kalangan kelas menengah muslim cenderung moderat. Karena itu kelompok kelas menengah ini perlu didorong untuk menjadi agen moderasi beragama.

“Kelompok-kelompok keagamaan atau majelis taklim merupakan asset. Kelompok keagamaan juga dapat berperan dalam menyemaikan nilai-nilai kebangsaan,” kata Zakiyah.

Setidaknya ada 3 isu strategis yang dibahas dalam policy brief. Pertama, peranan atau majelis taklim dalam pengembangan kehidupan beragama, sosial, dan ekonomi. Kedua, eskalasi peristiwa intoleransi yang terjadi di tahun-tahun belakangan. Ketiga, penurunan sikap pada nilai kebangsaan.

Senada dengan hal tersebut Iman Fadilah, anggota tim peneliti, mengatakan BLA Semarang perlu melihat titik-titik penting hasil penelitian di 5 kota. Perbedaan subyek penelitian dan temuannya dirumuskan ke dalam tipologi majelis taklim dan upaya moderasinya.

“Kita juga bisa melihat faktor-faktor yang berpotensi mengarah kepada radikalisme. Di lingkup jamaah pengajian bisa dilihat dari tema-tema kajian atau ustad-ustad yang dihadirkan,” kata Iman.

Menurut Iman, rekomendasi penelitian ini bisa dilakukan dua arah, yaitu secara structural dan secara kultural. Secara struktural kepada pemangku kebijakan seperti Kemenag, Kemendikbud, Pemda dan stakeholder terkait. Secara kultural kepada pemilik perusahaan, asosiasi pengusaha, pengurus masjid atau dewan masjid. Karena aktivitas keagamaan kalangan kelas menengah ini tidak bisa dilepaskan dari perkara bisnis dan perekonomian. [syafa’]