Jembatan Dialog untuk Meredakan Fobia Islam-Barat

0
32

Islamofobia atau ketakutan terhadap Islam adalah suatu kenyataan yang ada di Barat. Begitu juga umat muslim pun mengidap ketakutan terhadap Barat atau western phobia. Diperlukan orang yang bisa menjadi jembatan bagi dialog antara Islam dengan Barat agar masyarakat dunia tidak fobia terhadap keduanya.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Prof. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D. dalam acara bedah buku Mendakwahkan Smiling Islam: Dialog Kemanusiaan Islam dan Barat. Bedah buku dihelat oleh Balai Litbang Agama Semarang di Hotel Pandanaran, Kamis 12 September 2019.

Buku tersebut merupakan autobiografi intelektual Prof Dur, sapaan akrab Abdurrahman Mas’ud. Dua sisi Prof Dur dihadirkan di buku ini, yaitu mengungkap kerja akademik dan penyebaran wacana Islam moderat di Amerika Serikat. Selain itu juga mengisahkan sisi kemanusiawian yang menggambarkan proses perjalanan hidup di Indonesia dan AS.

“Jadi buku ini tidak 100 persen ilmiah. Di sini saya share pengalaman hidup, cara memperoleh beasiswa, pengalaman menulis paper S2 dan S3, paper pengukuhan profesor. Ini bisa dicontoh bagi teman-teman,” kata Prof Dur.

Buku ini sekaligus merupakan refleksi pengalaman hidup Prof Dur hidup Amerika selama lebih dari 7 tahun. Dia merasakan begitu pentingnya ruang dan wacana dialog antara Islam dan Barat. Tidak lain untuk mewujudkan Islam damai yang didakwahkan secara ramah.

“Dialog pada era globalisasi abad 21 ini adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari karena dialog merupakan kemauan menerima the others, mendengar dengan tulus, dan berakhir dengan mutual learning. Dalam proses dialog ini, dunia Islam-Barat harus diposisikan sejajar, tidak ada yang merasa lebih dimuliakan sebagai sebuah peradaban,” katanya.

Prof Dur menceritakan sebenarnya agenda penerbitan buku ini sudah lama, sekitar lima tahun, namun sempat “membeku di lemari es”. Penundaan penerbitan buku ini dikarenakan kekhawatiran penulis kalau dia dituduh kebarat-baratan.

“Karena saya masih ragu. Saya mengalami kegalauan karena ada kata “Barat” di judul buku, nanti saya dikira liberalis atau Yahudi. Padahal pengalaman studi saya di sana,” kata Prof Dur.

Islam yang Tersenyum

Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Imam Taufiq, M.Ag. selaku narasumber pembedah buku mengistilahkan ikhtiar Prof Dur mendakwahkan “Islam yang tersenyum”. Itu tidak lepas dari kultur pesantren yang menjadi landasan kehidupan sang penulis.

“Prof Dur lahir dari Kudus Kulon. Membaca beliau itu tidak bisa dicerabut dari konteks geografis Kudus Kulon, masyarakat relijius Menara. Di buku ini membuktikan bahwa tradisi akidah pesantren yang dimilki Prof Dur tidak tergerus oleh sekularitas di Amerika,” kata Taufiq.

Imam menambahkan bahwa Islam yang tersenyum ramah aka smiling adalah tradisi pesantren. Karakter santri itu kontributif bagai suasana damai di masyarakat. [syafa’]