Hindari Memindahkan Mimbar ke Media

0
22

Siaran konten keagamaan melalui media memiliki pangsa pasar yang luas di masyarakat penonton Indonesia. New media (media baru) seperti media sosial juga menyajikan konten-konten keagamaan yang bisa dinikmati pemirsa. Sayangnya masih banyak konten mimbar agama yang hanya dipindahkan saja ke media dan menjadi tontonan publik. Polemik muncul karena konten ceramah yang bersifat ruang privat tetapi dilempar ke ruang publik.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua KPID Asep Cuwantoro dalam kegiatan Rapat Penelurusan Literatur Literasi dan Moderasi Agama di Kalangan Milenial di Hotel Pandanaran Semarang (Rabu, 11/09/2019). Asep mendikusikan topik seputar penyiaran konten keagamaan di media bersama dengan para peneliti.

“Tidak menarik jika caramah di mimbar dipindahkan ke media seperti televisi atau youtube. Ceramah di mimbar itu kan sifatnya lebih privat, jadi kalau dilempar ke ruang publik bisa menjadi kegaduhan,” kata Asep.

Karena itu, tambah dia, konten keagamaan harus lebih kreatif. Tidak sekadar mengunggah video ceramah ustadz ke media.

Terkait rencana Balai Litbang Agama Semarang yang akan menginisiasi kelahiran konten video moderasi agama, Asep memberikan pertimbangan soal media yang akan digunakan. Menurutnya, ada implikasi yang berbeda jika kita hanya mempublish konten di media sosial dengan menyiarkannya di televisi.

“Kalau hanya kita upload di media sosial seperti Youtube, konten kita berhadapan dengan UU ITE, dan itu lebih longgar. Tetapi kalau kita juga manya menayangkan di televisi maka konten berhadapan dengan UU Penyiaran yang lebih ketat mengatur suatu tayangan,” katanya.

Asep menjelaskan, masih banyak persepsi yang keliru di kalangan media televisi yang menyalin konten dari Yuotube lalu memindahkannya ke televisi. Ada banyak aturan dari UU Penyiaran yang berpotensi dilanggar ketika konten di media sosial disalin ke televisi. Karena di medsos itu lebih bebas, sementara UU Penyiaran sangat detail memberikan batasan.

Iman Fadilah, Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim, selaku tim penyusun Buku Pedoman Literasi Moderasi Di Kalangan Milenial mengatakan bahwa upaya moderasi agama sangat strategis dilakukan di kalangan generasi milenial. Karena itu konten-konten moderasi yang disajikan juga harus cocok dengan selera milenial.

“Kita akan mendorong generasi milenial untuk menciptakan video-video atau konten untuk menyiarkan Islam moderat,” kata Iman. [syafa’]