Kelas Menengah Muslim Cenderung Moderat

0
18

Pandangan keagamaan kelas menengah muslim di perkotaan tergolong moderat. Aktivitas sosial keagamaan mereka tidak merongrong ideologi kebangsaan.

Itulah salah satu temuan hasil penelitian “Moderasi Beragama Masyarakat Menengah Muslim dalam Konstelasi Kebangsaan” yang diekspose oleh Balai Litbang Agama Semarang di Hotel Santika Pekalongan, 4-6 September 2019. Hasil penelitian tersebut dipaparkan di hadapan perwakilan ormas keagamaan atau majelis taklim, Kementerian Agama kab./kota, majelis ulama, dan lembaga terkait

Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan yang diketuai oleh Zakiyah, M.A. Lima kota besar dijadikan lokasi penelitian, yaitu Kota Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang.

“Kelas menengah muslim merupakan kelompok yang potensial menjadi agen perubahan. Kelompok ini sering dikaitkan dengan agenda global, memiliki kekuatan politik. Karena kelas ini terdidik, berdaya secara ekonomi, dan memiliki akses yang luas terhadap sumber informasi,” kata Zakiyah.

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pemahaman keagamaan kalangan menengah muslim dalam konteks kebangsaan. Pemahaman dan aktivitas keagamaan kelas ini patut diteliti karena gerakan mereka memiliki pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat secara umum.

Dari Pengajian Menuju Kepedulian Sosial

Iman Fadilah, M.S.I. meneliti aktivitas sejumlah majelis taklim di Kota Semarang. Dia menemukan, secara umum sikap keberagamaan kelas menengah muslim tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan. Selain aktivitas keagamaan, majelis-majelis taklim juga menginisiasi kegiatan bakti sosial.

Namun secara spesifik, pengajian atau majelis taklim kelas  menengan muslim ini bervariatif coraknya. Kelompok pengajian di perumahan dan yayasan lebih bersikap toleran dan mengedepankan nilai-nilai agama dalam kajiannya. Tetapi pengajian di hotel-hotel cenderung mengedapankan formalisme dalam beragama.

Lilam Kadarin Nuriyanto, M.Si. meneliti kelas menengah muslim di Surakarta, khususnya komunitas pedagang. Kegiatan majelis taklim yang mereka jalankan cenderung menjaga nuansa moderat.

“Penceramah atau ustaz yang dihadirkan di pengajian umum bisa menyatukan seluruh jamaah. Tetapi bila ustaznya bercorak dari kelompok keagamaan tertentu, maka yang hadir juga jamaah dari kelompoknya sendiri,” ungkap Lilam.

Komunitas pedagang di Surakarta juga cenderung lebih menampakkan aktivisme sosial berupa kedermawanan. Para pedagang BTC bersedekah dengan nasi bungkus untuk para tukang becak dan karyawan di sekitarnya. Di situ disediakan gerobak tempat nasi bungkus. Siapapun boleh menyumbangkan makanan atau mengambil makanan di gerobak.

Di Yogyakarta, Zakiyah membidik pengajian di kalangan perempuan. Zakiyah mengelompokkan pengajian perempuan ke dalam 6 varian. Yakni majelis taklim yang berasosiasi dengan ormas keagamaan, majelis yang diinisiasi oleh perorangan, majelis yang diinisiasi oleh wali murid di sekolah, majelis yang diinisiasi oleh komunitas seprofesi, majelis tematik, dan majelis sosialita.

“Perempuan lebih banyak mengikuti acara-acara pengajian dibandingkan dengan laki-laki. Karena laki-laki sudah mengikuti jum’atan dan mendengarkan khutbah tiap minggunya, sedangkan perempuan tidak. Aktivitas pengajian perempuan juga dimanfaatkan untuk interaksi sosial atau silaturahmi,” kata Zakiyah.

Pandangan keagamaan jamaah majelis taklim perempuan yang diteliti Zakiyah tergolong ramah terhadap ide-ide kebangsaan. Di antara pandangan mereka adalah pancasila relevan sebagai dasar Negara, NKRI bisa mewadahi berbagai etnis dan agama, dan hukum Islam belum bisa ditegakkan sepenuhnya karena Indonesia adalah negara multiagama.

Dandung Budi Yuwono, M.A. meneliti pengajian di kalangan karyawan atau pegawai di perkantoran. Menurut Dandung, aktivitas keberagamaan yang tampak di majelis-majelis taklim di lingkungan perkantoran tidak pernah mempersoalkan pandangan kebangsaan.

“Ini tidak lepas dari kultur masyarakat Surabaya sangat menjunjung tinggi figur ulama dan umara’ dalam tata kehidupannya. Sekalipun masyarakat muslim  adalah mayoritas di Surabaya, namun tidak menunjukkan resistensi dan dominasi terhadap kelompok minoritas,” kata Dandung.

Di Malang, Drs. Sulaiman, M.Ag. meneliti majelis taklim di perumahan elite Permata Jingga. Di kawasan perumahan ada 2 masjid, yakni masjid Abdullah dan mesjid Cahyaning Ati. Kedua masjid ini bukan representasi dari perbedaan faham, tetapi lebih memfasilitasi warga masyarakat agar kegiatan keagamaan lebih efektif. Di kedua masjid inilah warga perumahan dapat menemukan kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotong-royongan.

Moderasi di perumahan Permata Jingga terlihat pada tradisi masyarakat pasca salat berjamaah. Praktik shalat berjamaah mereka sebagian mengikuti faham yang dikembangkan oleh NU dan sebagian mengikuti faham yang dikembangkan oleh Muhamadiyah.

“Mereka memiliki tradisi “unik” pasca salat berjamaah, yakni berkumpul dan atau mengobrol bersama tanpa membedakan status sosial mereka, seperti pengusaha, pejabat, dan mantan pejabat,” ungkap Sulaiman.

Cakupan Lebih Luas

Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Keagamaan Dr. Muharram Marzuki, M.A., Ph.D. mengapresiasi riset yang dilakukan oleh BLA Semarang. Menurutnya, kegiatan riset tentang moderasi agama ini merupakan bagian dari agenda pembangunan kerukunan umat yang menjadi tugas Kementerian Agama.

“Saya senang melihat temuan penelitian bahwa kelas menengah muslim kita moderat. Artinya kelas menengah ini bisa didorong untuk memoderasi masyarakat lebih luas,” kata Muharam.

Ke depan cakupan penelitian terkait moderasi agama harus diperluas ke masyarakat kelas bawah. Masyarakat dengan tingkat pendidikan tergolong rendah, serta kekuatan ekonomi yang lemah, perlu dilihat apakah pemahaman keagamaannya moderat atau sebaliknya.

Kepala Balai Litbang Agama Semarang Dr. Samidi, S.Ag., M.S.I. mengakui memang fokus penelitian ini kepada kelas menegah muslim di 5 kota besar. Hasil penelitian ini tidak bisa menggeneralisir realitas keagamaan kelas menengah muslim secara umum.

“Setiap peneliti mengambil kelompok majelis taklim yang berbeda di tiap kota, ada yang berfokus pada majelis di perhotelan, ada yang fokus di majelis perumahan, ada yang di perkantoran. Jika dilakukan di kota-kota lain hasilnya bisa berbeda,” kata Samidi. [syafa’]