Pembangunan Tak Dapat Berjalan Tanpa Kerukunan Umat Beragama

0
34

Pekalongan (04/09). “Bagaimana mungkin pembangunan dapat berjalan dengan jika di tengah masyarakat tidak terjalin kerukunan umat beragama?” Demikian ungkap Kapuslitbang Bimas Agama, Muharram Marzuki,  mengawali sambutannya.

Hal ini ia sampaikan di hadapan para peserta Seminar Hasil Penelitian “Moderasi Beragama Masyarakat Menengah Muslim dalam Konstelasi Kebangsaan”. Seminar diselenggarakan oleh Balai Litbang Agama Semarang di Hotel Santika Pekalongan (4-6 September).

Lebih lanjut Muharram menyampaikan bahwa salah satu komponen penting dalam melanjutkan pembangunan negara adalah adanya kerukunan, baik kerukunan antarumat beragama maupun kerukunan intra umat beragama. “Tanpa kerukunan, tentu pembangunan tidak dapat berjalan maksimal,” lanjutnya.

Meskipun kerukunan penting, namun menurut Muharram kondisi realistis masyarakat Indonesia sangatlah beragam. Kenyataan ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat kita. Semakin beragam masyarakat, tentu tantangan untuk merajut kerukunan semakin besar.

“Oleh karenanya, kita perlu meningkatkan rasa toleransi diantara kita. Saling memahami dan menghargai kunci dari terwujudnya kerukunan,” terangnya.

Berlatarbelakang kenyataan ini, Balai Litbang Agama Semarang melakukan penelitian Moderasi Beragama di Kalangan Masyarakat Menengah. Menurutnya penelitian ini bisa menjadi salah satu sumber informasi untuk menciptakan kerukunan di masyarakat. Menurutnya, masyarakat menengah memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat moderat.

“Masyarakat menengah bisa dimanfaatkan untuk mempengaruhi masyarakat kelas dibawahnya untuk menjadi moderat. Disinilah letak pentingnya penelitian ini,” pungkasnya. [AGS]