Membaca Manuskrip Bukan Untuk Menjadikan Kita Kuno

0
97

Naskah kita dari Sabang sampai Merauke yang sudah didigitalisasi ada total sekitar berjumlah 6200an, khusus untuk mus’haf Al Quran kurang lebih ada 450an, jadi mus’haf dari Sabang sampai Merauke sekitar 450an.

Demikian ungkapan Dr. Mohammad Zain, M. Ag., Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Kementrian Agama RI mengawali pemaparan materi dalam rangkaian kegiatan Launching Repositori Online Naskah Keagamaan Madura di hotel Arcadia Horison Surabaya, Rabu (28/08).

“Problem kita adalah pengkajiannya,kita mengalami kemunduran intelektualitas, tidak semua orang bisa bahasa arab,tidak semua orang bisa bahasa Madura,ini ditulis bahasa arab dan bahasa Madura, syukurlah teman – teman peneliti BLA Semarang menyelamatkan manuskrip naskah kuno, ini dibuat oleh BLA semarang dalam rangka menyelamatkan naskah . Setelah proses mengumpulkan naskah ini, tugas kita selanjutnya adalah mengkaji, bagaimana khazanah intelektual yang kita miliki ini agar bisa dibaca oleh generasi milenial,” ungkap Zain.

Proses digitalisasi, katalogisasi, dan menjadikannya dalam sebuah repositori online dinilai oleh Kapuslektur bermanfaat sekali. “Pemanfaatannya adalah jelas supaya kita memiliki ketersambungan intelektualitas kepada generasi yang  lalu-lalu agar anak-anak kita itu tahu bahwa sebenarnya kita ini keturunan dari orang2 pintar, jadi dengan membaca manuskrip bukan untuk menjadikan kita kuno,” lanjut Zain.

“Dari khazanah yang kita miliki, ini menunjukkan bahwa bangsa kita sebenarnya memiliki peradaban yang sangat tinggi, jadi tingkat peradaban tinggi sebuah bangsa tidak dilihat dari kemegahan arsitektur dan seberapa megahnya bangunan yang ada, namun karya – karya ini lah yang menentukan, mudah – mudahan kita bisa berupaya ikut serta dalam menyelamatkan kekayaan intelektual bangsa,” pungkas Zain. (ry*)