Penelitian Jangan Hanya Sampai Pada Rekomendasi Saja, Harus Ada Tindak Lanjut.

0
31

Begitu pesan Prof. Dr. H. Moh. Isom, M. Ag. pada saat sesi penutupan kegiatan Workshop Tim Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Balai Litbang Agama Semarang berjudul “Penyusunan Repositori Naskah Keagamaan di Madura” bertempat di Hotel Aria Gajayana Malang pada tanggal 13-16 Agustus 2019 . Beliau selaku narasumber sesi terakhir sekaligus penutup dari rangkaian acara Workshop di Malang. Turut pula mendampingi Kepala Balai Litbang Agama Semarang Dr. Samidi, S. Ag., M. S. I. dan Koordinator Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Drs. Roch Aris Hidayat, M. Pd. selaku moderator. 

“Berkaitan dengan pemanfaatan naskah2 itu,badan litbang dan diklat dalam proses membuat suatu aturan yaitu Pemanfaatan Hasil Penelitian,jadi penelitian tidak hanya berhenti di rekomendasi,tapi perlu ada tindak lanjut menjadi kebijakan bagi unit esselon 1 terkait supaya tidak berdiri sendiri. Jadi kita sudah menyiapkan aturan, mungkin dalam minggu-minggu ini akan terbit. Jadi hasil penelitian tidak hanya sekedar rekomendasi, tapi harus menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan di masing-masing unit esselon 1” ungkap Moh. Isom, Sekretaris Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama.

Moh. Isom juga menjelaskan program unggulan dari Kementerian Agama agar kedepannya bisa membangun citra umat beragama yang bersatu,mengutamakan kebersamaan,dan berada pada sikap tengah dalam kehidupan beragama.

“Program-program unggulan Kementerian Agama yang ada kaitannya dengan integrasi data ada 3 hal yaitu yang pertama Integrasi Data, karena di Kemenag datanya masih berserakan, masing-masing unit esselon 1 memiliki data namun datanya sendiri-sendiri dan tidak terintegrasi baik secara internal maupun eksternal, maka perlu adanya integrasi data satu sama lain agar datanya berkesinambungan. Kemudian yang kedua Kebersamaan, yang merupakan suatu keniscayaan bagi kita semua, karena kemenag sebagai poros dari seluruh umat beragama maka kebersamaan harus tetap dijaga supaya kita menunjukkan kesatuan dan kebersamaan antara umat beragama. Yang ketiga adalah Moderasi Beragama, yang artinya kita harus berada pada sikap tengah dalam kehidupan beragama,” lanjut Moh. Isom.

Terakhir, beliau berpesan agar kita sama-sama melaksanakan kewajiban menjaga persatuan dan kesatuan serta mengisi kemerdekaan dengan membangun negara Indonesia supaya lebih maju,dan berdaya saing.

“Kita ini kan tidak ikut berperang dan berjuang, tinggal mengisi negara kita dan membuat negara kita maju dan berdaya saing, itulah kewajiban kita. Tidak usah aneh-aneh membentuk negara lain, membuat ideologi lain, itu sudah tidak benar. Jika sekedar wacana akademik silahkan saja, tapi jika menyangkut konteks berbangsa dan bernegara, Pancasila sudah disepakati bersama-sama dan konsensus. Integrasi data,moderasi beragama, dan kebersamaan umat harus tetap kita jaga supaya kita dalam berbangsa dan bernegara tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Indonesia adalah negara yang kita cintai, dimana tumpah darah kita semua ada disini. “ tutup Moh. Isom . (*ry)