Repositori Online, Menjaga Warisan Budaya Leluhur Bangsa Agar Tidak Berpindah Tangan

0
60

Tim Lektur Khasanah Keagamaan & Manajemen organisasi Balai Litbang Agama Semarang kembali menggelar kegiatan dalam rangka penyusunan dan pembuatan repository online. Acara diselenggarakan pada tanggal 13-16 Agustus 2019 di Hotel Aria Gajayana Malang. Acara tersebut dihadiri oleh pemilik naskah dari Madura, pustakawan, pemerhati naskah, akademisi, serta beberapa instansi terkait.

Sambutan Kepala Balai Litbang Agama Semarang diwakili oleh Koordinator Bidang Lektur Khasanah Keagamaan & Manajemen Organisasi, Drs. Roch Aris Hidayat, M.Pd. Dalam sambutannya ia mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan tim lektur dalam penyusunan repositori online yang sudah diawali dari penelitian naskah tahun 2010. Harapannya semoga nanti bisa berguna bagi masyarakat luas dari berbagai kalangan.

“Rencananya tahun ini akan diterbitkan repositori naskah yang dionlinekan agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas melalui koneksi internet, dan agar dapat dimanfaatkan masyarakat Indonesia yang peduli terhadap warisan budaya bangsa kita”, ungkap Aris.

“Mudah-mudahan pertemuan kali ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua yang hadir dan bagi pemilik naskah bisa memberikan kontribusi dengan cara bagaimana merawat naskah-naskah tersebut. Pesan saya kepada pemilik naskah, ini penting dan akan terus saya ulang-ulang, harapannya naskah ini agar jangan sampai berpindah tangan”. Tambah Aris.

Secara resmi acara ini dibuka oleh Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Kementrian Agama RI, Dr. Muhammad Zain, M. Ag. yang dilanjutkan dengan memberikan materi selaku narasumber. Ia mengungkapkan bahwa naskah awalnya adalah bahan pustaka sebagai penanda kuatnya literasi bangsa kita. Lambat laun naskah bergeser dari pustaka menjadi benda pusaka. Lebih dari itu, perlu disadari bahwa naskah menyimpan memori intelektual bangsa dan merupakan warisan khazanah kebudayaan leluhur yang tak ternilai harganya. Halmana naskah-naskah tersebut memuat aneka ragam bidang ilmu seperti tafsir, hadis, tasawuf, ilmu fikih, pengobatan, primbon, bahkan humor yang sangat mungkin belum pernah terungkap sebelumnya atau hanya dikenal secara lisan.

“Saya berterima kasih sekali kepada pemilik naskah karena ini merupakan satu hal penting, ini bukan kerja yang biasa-biasa saja, tetapi ini adalah kerja intelektual, kerja peradaban yang hasilnya bisa terlihat 10 tahun, 20 tahun, bahkan untuk ratusan tahun ke depan. Kita patut memberikan apresiasi juga kepada tim peneliti yang berburu naskah di berbagai tempat seperti masjid, rumah pemilik naskah, pondok pesantren, melakukan negoisasi dengan kolektor naskah dan juga berkunjung ke museum. Seperti jamak diketahui bahwa ntuk mendapatkan sebuah naskah tidaklah mudah dan butuh perjuangan.”, ungkap Muhammad Zain.

“Dalam proses sepuluh tahun terakhir ini sangatlah berat untuk menemukan naskah, terlebih merawat naskah tersebut. Mudah-mudahan kita dapat memetik kearifan (local wisdom) dari naskah-naskah tersebut lewat pengkajian dan riset yang serius. Dari naskah kita tahu bahwa kita mempunyai banyak bahasa dan aksara yang artinya literasi bangsa Indonesia ini sangat kuat. Jangan sampai terulang lagi sejarah, kita dijajah bangsa lain hingga budaya asli bangsa punah. Bangsa yang besar bukan hanya dilihat dari bangunan dan arsitekturnya yang megah, tetapi dari kekayaan karya literasinya. Saya mengharapkan kesadaran pemilik naskah dalam merawat dan bertanggung jawab menjaga naskah. Jangan sampai hanya karena masalah uang naskah itu berpindah tangan kepada tangan-tangan “asing” yang bisa saja berdampak pada keterputusan memory intelektual anak bangsa kita. Sekali lagi, merawat dan mengkaji manuskrip sangatlah penting karena menyimpan khazanah intelektual bangsa yang otentik.”, tutup Muhammad Zain.

Acara dilanjut dengan sesi tanya jawab peserta kepada narasumber, dan ditutup oleh pembacaan doa dan foto bersama para peserta dan narasumber. (*ry)