Penyusunan Pedoman PTKp Bagi Pengawas Menuju “Garis Finis”

0
32

Medio 2016 silam, Balai Litbang Agama (BLA) Semarang mengekspose hasil penelitian tentang Indeks Kepuasan Madrasah Terhadap Kinerja Pengawas di Jawa Tengah. Dalam diseminasi yang dihelat di Salatiga tiga tahun silam itu dipaparkan adanya kesenjangan antara harapan guru dan kepala madrasah terhadap kinerja pengawas.

Guru dan kepala madrasah menilai kinerja pengawas belum memuaskan. Kemampuan pengawas dalam memberikan bimbingan guru dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas pun dirasa belum sesuai harapan.

Temuan minus itu berkait paut dengan persoalan pengembangan kompetensi madrasah yang berlum berjalan maksimal. Tradisi menyusun karya tulis ilmiah (KTI) belum masih sebatas prasyarat naik pangkat. Kenyataan ini bukanlah kesalahan an sich pengawas. Sebab mereka kurang mendapatkan pembinaan tentang pelaksanaan penelitian dan penyusunan KTI, selain motivasinya menulis KTI masih rendah.

Temuan-temun itu menimbulkan kegelisahan akademik di kalangan peneliti BLA Semarang, khsusunya bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan. Hingga dirasa perlu menyusun buku pedoman tindakan kepengawasan (PTKp). Ini adalah ikhtiar untuk meningkatkan kompetensi pengawas madrasah dalam pelaksanaan PTKp dan penulisan KTI. Harapannya, buku pedoman itu mampu memberikan gambaran yang utuh tentang bagaimana langkah pelaksanaan PTKp.

Penyusunan pedoman tersebut hampir mencapai “garis finish“. Kegiatan pengujian draf final buku pedoman pun digelar di Sukoharjo, di Hotel Best Western Premier tepatnya, pada 13-16 Agustus 2016. Kegiatan ini diikuti oleh unsur pengawas, guru, kepala madrasah, dan widyaiswara dari Kab. Sukoharjo, Kota Surakarta, Kab. Karanganyar, Kab. Sragen, Kab. Wonogiri, Kab. Bantul, Kab. Boyolali, Kab. Kudus, Kab. Pati, dan Kab. Semarang. Sejumlah 50 peserta dari unsur eksternal dan peneliti BLA Semarang terlibat dalam uji draf yang sudah disusun oleh para peneliti. Para peserta membedah buku draf pedoman PTKp, mengkritisi, serta mengoreksinya.

“Adanya kegiatan semacam ini rasanya para pengawas diperhatikan. Mudah-mudahan ke depan ada tindak lanjut yang menggembirakan,” kata Syauddin, pengawas madrasah dari Kab. Kudus.

Harapan itu bersambut gayung dengan keinginan Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Prof. Amsal Bahtiar, M.A. Dia menyarankan BLA Semarang melakukan pendampingan PTKp bagi pengawas tidak berhenti pada penyusunan buku model saja. Melainkan pendampingan riil dan bertahap, mulai dari panduan, penyusunan proposal, hinggga pelaksanaan penelitian.

Kiat PTKp dari Para Pakar

Sejumlah akademisi dan praktisi yang merupakan pakar dalam hal PTKp dihadirkan sebagai narasumber. Dua di antaranya adalah Dr. Fahrurrozi dari FITK UIN Walisongo Semarang dan Drs. Idi Joko Sudono, M.S.I. selaku pengawas madrasah di Kab. Semarang yang notabene praktisi PTKp. Kiat yang dibagikan oleh keduanya mencakup langkah penyusunan judul, background penelitian, rumusan masalah, kerangka toeri, metode, analisis, dan penarikan kesimpulan.

Secara interaktif, Fahrurrozi bersama peserta secara menjaring sejumlah persoalan di lingkup kepengawasan madrasah. Yaitu masih banyak guru yang kegiatan pembelajaran belum sesuai dengan standar proses, banyak kurikulum madrasah yang belum sesuai dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), banyak guru belum variatif dalam melaksanakan proses pembelajaran, dan banyak guru yang belum sesuai standar penilaian.

Menurutnya, judul PTKp yang baik harus memuat empat hal, yaitu solusi, target, bidang, tempat dan tahun. Sedangkan prosedur meliputi planning (perencanaan), acting (tindakan), observing (pengamatan), dan reflecting (refleksi).

Perencanaan meliputi perumusan masalah dan cara memperbaikinya, serta merancang cara perbaikannya. Pelaksanaan tindakan adalah aksi dari rencana di mana pengawas berperan sebagai peneliti yang mengumpulkan data. Pengumumpulan data bisa dilakukan dengan pengamatan, instrumen, studi dokumen, dan wawancara. Tindakan dan observasi bisa dilaksanakan dengan kolaborator atau partisipan. Sedangkan refleksi adalah proses analisis data, menghubungkan berbagai data dan kejadian sekaligus evaluasi berhasil atau tidaknya tindakan.

KTI Berorientasi APIK

Senada dengan hal itu  itu Idi Joko Sudono menegaskan bahwa KTI harus berorientasi APIK. APIK sendiri akronim dari Asli, Perlu, Ilmiah, dan Konsisten.

Orientasi tersebut bukan tanpa alasan. Mengingat beragam persoalan terkait PTKp di kalangan pengawas bermuara pada empat hal. Yaitu karya tulis bukan buatan sendiri, pengawas belum terbiasa menulis, karya tulis tidak memenuhi standar ilmiah, dan tidak jelas jenis KTI yang yang ditulis.

Agar KTI bisa APIK, Sudono pun menyebutkan urutan langkah PTKp. Mulai dari identifikasi masalah dan perumusan masalah. Selanjutnya merumuskan hipotesis tindakan, pembuatan rencana tindakan, dan pelaksanaan tindakan. Selanjutnya pengamatan tindakan. Langkah selanjutnya adalah refleksi tindakan. Kemudian mengolah dan menafsirkan data serta validasi data dan kredibilitas PTKp. Langkah terakhir adalah melaporkan hasil penelitian. (syafa)’