BLA Semarang Dorong Pengawas Madrasah Lakukan PTKp

0
32

Balai Litbang Agama (BLA) Semarang mendorong para pengawas madarasah untuk lebih giat melakukan Penelitian Tindakan Kepengawasan (PTKp). Dorongan tersebut diaktualisasikan dengan menyusun buku Pedoman PTKp bagi Pengawas  di Madrasah. Penyusunan buku pedoman tersebut memasuki tahap finalisasi yang dilaksanakan di Hotel Aston Imperium Purwokerto pada tanggal 05-08 Agustus 2019.

Kepala BLA Semarang Dr. Samidi, S.Ag., M.S.I. mengatakan, penyusunan buku pedoman ini adalah upaya untuk menggiatkan penelitian terkait kepengawasan di kalangan pengawas, guru, atau kepala madrasah. Karena penelitian adalah cara ilmiah untuk memecahkan masalah.

Persoalannya, SDM pengawas masih timpang dibandingkan dengan jumlah madrasah yang ada. Untuk memenuhi kewajiban pengawasan, baik akademik ataupun manajerial, SDM pengawas masih kurang. Sehingga aktivitas penelitian seperti PTKp di kalangan pengawas pun minim.

Mengenai kapasitas pengawas untuk melakukan penelitian, BLA Semarang siap bekerjasama mengadakan pelatihan penelitian atau penulisan karya tulis ilmiah (KTI).

“BLA Semarang bersedia menugaskan para peneliti yang sudah ahli untuk melakukan mentoring atau pendampingan kepada para guru, pengawas, atau kepala madrasah untuk menyusun proposal, melakukan penelitian, dan menulis laporan atau KTI,” kata Samidi.

Penyusunan buku pedoman PTKp bagi pengawas merupakan tindak lanjut dari hasil penelitan yang dilakukan oleh BLA Semarang. Hal itu disampaikan Koordinator Bidang Pendidikan Agama dan Keagaaman BLA Semarang Dr. Aji Sofanudin, M.Pd. Dia mengatakan, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat gap antara kinerja pengawas madrasah dengan ekspektasi guru dan kepala madrasah. Selain itu, kemampuan pengawas masih kurang dalam memberikan bimbingan guru tentang PTK (penelitian tindakan kelas).

“Problem pengawas adalah mendokumentasikan tugas-tugas kepengawasan, baik kepengawasan akademik maupun manajerial. Sehingga dengan buku pedoman ini bapak/ibu memiliki semangat untuk melakukan PTKp,” kata Aji.

Pengawas Madrasah Aliyah Kab. Pekalongan Drs. Imronuddin mengakui bahwa pemberdayaan pengawas untuk melakukan penelitian itu penting dilakukan. Namun, masalahnya, belum ada langkah kongkrit yang memberikan ruang bagi pengawas untuk menumbuhkan budaya penelitian.

Menurut Imron, pengawas dan guru jarang dilibatkan dalam kegiatan penelitian yang diadakan oleh kampus atau lembaga terkait. Dia menyarankan agar kampus dan lembaga penelitian mulai melibatkan pengawas dan guru dalam kegiatan penelitian.

“Berilah ruang bagi pengawas untuk mempresentasikan proposal atau memaparkan hasil penelitian. Kalau pengawas sudah terbiasa dengan penelitian, bisa merembet ke guru atau kepala madrasah,” usul Imron. (syafa’)