Kesadaran Jaminan Produk Halal Masih Perlu Ditingkatkan!

0
20

Semarang (30/07). Salah satu temuan dari tim peneliti Balai Litbang Agama (BLA) Semarang adalah masih kurangnya kesadaran stakeholder pengelolaan pasar terhadap jaminan produk halal. “Temuan kami di lapangan,  terdapat beberapa pasar yang masih belum memisahkan secara jelas antara pedagang daging halal dan pedagang daging babi”. Pernyataan tersebut disampaikan Arnis Rachmadhany saat memberikan pengantar pada kegiatan Rapat Penyusunan Laporan Hasil Penelitian.

Rapat yang dilaksanakan di Kantor Balai Litbang Agama Semarang (30/07) diikuti oleh seluruh peneliti yang terlibat dalam kegiatan penelitian.  Selain itu,  kegiatan ini juga diikuti oleh perwakilan dari Kanwil Kementerian Agama Semarang dan perwakilan akademisi dari Universitas Wahid Hasyim.

Berbagai temuan tersebut didapatkan setelah para peneliti melakukan penelitian berjudul “Tata Kelola Jaminan Produk Halal pada Pasar Rakyat di Kota Besar di Jateng,  Jatim dan DIY”. Beberapa kota yang menjadi sampel penelitian adalah Kota Semarang,  Kota Surakarta,  Kota Yogyakarta,  Kota Surabaya dan Kota Malang.

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui jaminan kehalalan daging dalam perspektif pengelolaan tata letak dan tata ruang pedagang daging pada pasar tradisional. “Titik tekan kami dalam penelitian ini bukan pada proses penyembelihan hewan,  tetapi kami tekankan pada proses distribusi daging di pasar tradisional” ungkap Setyo Boedi sebagai ketua tim peneliti.

Sebagaimana dipahami umat Islam,  kehalalan daging dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantaranta adalah dari sisi jenis hewan yang disembelih,  tata cara penyembelihan,  maupun persinggungan daging dengan benda lain.

Dalam hal jenis hewan, secara jelas disebutkan terdapat hewan yang diharamkan, diantaranya adalah babi.  Begitu juga dalam konteks tata cara penyembelihan, Islam juga mengatur tata caranya.  Sehingga jika disembelih tanpa mematuhi tata cara tersebut,  dapat dipastikan daging tersebut menjadi tidak halal.

Selain dua hal diatas,  terdapat potensi perubahan status kehalalan daging yang belum aepenuhnya diperhatikan,  yaitu proses distribusi dan persinggungan danging tersebut dengan barang non halal ataupun najis. Proses persinggungan tersebut biasanya terjadi di pasar.

Sebagaimana hasil temuan peneliti, terdapat beberapa pasar yang belum memiliki standar pemisahan antara pedagang daging halal dan daging non halal.  “di salah satu kota besar di Jawa Tengah,  terdapat pasar yang secara administratif memiliki sertifikat halal,  tetapi ternyata setelah dilihat di lapangan,  belum terdapat pembagian zona yang jelas antara pedagang daging sapi dan pedagang daging babi” ujar Boedi saat menyampaikan paparan.

Dalam penyusunan laporan hasil penelitian, tim peneliti kemudian merekomendasikan kepada stakeholder terkait untuk memasukkan unsur halal-haram dalam regulasi penataan pasar tradisional. Rekomendasi ini didukung oleh Khotibul Umam selaku perwakilan dari Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah. “Selama ini  regulasi pengelolaan pasar hanya didasari pada jenis dagangan basah dan kering. Saya kira perlu direkomendasikan untuk menambahkan unsur halal-haram dalam pengelolaan tata ruang pasar” ungkapnya. [AGS]