Tularkan “Virus” Pentingnya Konservasi Naskah, BLA Semarang Lanjutkan Safari ke Madura

0
117

Sumenep (16/7). Balai Litbang Agama Semarang (BLA Semarang) memandang bahwa upaya konservasi dan peningkatan kemanfaatan naskah keagamaan perlu dilaksanakan bahkan dikampanyekan. Oleh karenanya, di tahun ini, salah satu program yang diselenggarakan oleh tim peneliti Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) BLA Semarang adalah upaya konservasi dalam bentuk penyusunan repository online naskah keagamaan yang ada di Madura.

Setelah minggu lalu melakukan kampanye perlunya konservasi dan repository naskah keagamaan di Kabupaten Pamekasan, pada hari ini, selasa (16/07). Tim LKKMO kembali “menularkan virus” pentingnya konservasi dan repository naskah keagamaan kepada para pemilik naskah di Kabupaten Sumenep.

Bertempat di Hotel Musdalifa, Sumenep, sebanyak lebih dari 20 (dua puluh) ulama dan tokoh masyarakat yang memiliki naskah berkumpul guna menyatukan kesepahaman pentingnya konservasi dan repository.  Selain para pemilik naskah, kegiatan juga diikuti oleh perwakilan dari Kankemenag Kabupaten Sumenep sebagai stake holder bidang keagamaan di Kabupaten Sumenep.

Dalam sambutan pembuka, Aris Hidayat selaku Koordinator tim peneliti LKKMO mengajak para peserta untuk memiliki kesadaran untuk melestarikan naskah keagamaan yang mereka miliki. “Hal yang luar biasa itu, sangat sepantasnyalah kita sebagai generasi penerusnya, untuk melestarikan apa yang ulama-ulama dahulu lakukan dengan cara yang kita bisa, salah satunya yang paling mudah adalah untuk melestarikan” ujarnya.

Lebih lanjut, Aris mengajak tidak hanya memiliki kesadaran, tetapi melakukan upaya nyata untuk melestarikan sesuai kemampuannya. “Oleh karena itu, kami mengajak bapak-bapak para pemilik naskah untuk melestarikannya sesuai kemampuan  kita masing-masing” ajaknya.

Salah satu upaya yang mampu dilaksanakan oleh BLA Semarang adalah menyimpan naskah dalam bentuk repository online. Agus Iswanto, salah satu tim penyusun Repositori dalam paparanya menyampaikan “Selama ini naskah yang kita teliti masih disimpan dalam bentuk soft file yang disimpan di flashdisk atau hard disk” ujarnya. Namun demikain, ia menilai penyimpanan dalam media flashdisk ataupun hard disk tidaklah efektif dan rentaan akan adanya kerusakan. Ia melanjutkan “flashdisk dan hard disk sangat rawan untuk terjadi kerusakan atau hilang. Kalau sudah rusak atau hilang, ya berarti rusak atau hilanglah naskah tersebut”.

Oleh karenanya, penyusunan repository online yang dilakukan oleh BLA Semarang, merupakan salah satu cara menyelamatka, melestarikan dan meningkatkan manfaat naskah yang lebih efektif dibandingkan hanya sekedar disimpan di dalam flashdisk ataupun hard disk.

Diakhir paparannya, Agus meminta partisipasi aktif para peserta untuk mendukung upaya yang sedang dibangun oleh BLA Semarang. Karena, tanpa ada partisipasi, meskipun dalam bentuk ijin para pemilik naskah, upaya melakukan pelestarian dan peningkatan manfaat naskah dalam bentuk repository tidak akan dapat dilaksanakan secara sempurna. “Kita sebisa mungkin perlu ada kesepahaman antara kami dan para pemilik naskah ini untuk dapat dilestarikan dan dimanfaatkan dalam bentuk repository online” paparnya.[AGS]