Kudus Urutan Pertama Kepuasan Kinerja Guru dan Kepala Madrasah

0
109

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Temuan penelitian Balai Penelitan dan Pengembangan (Litbang) Agama Semarang menunjukkan Kabupaten Kudus menempati urutan pertama, dalam hal indeks kepuasan guru dan kepala madrasah terhadap kinerja pengawas.

Hal ini mengemuka pada diskusi pengawas, guru, kepala madrasah, dan stakeholder pengawas yang meliputi pejabat Kemenag dan akademisi IAIN Kudus di @Hom Hotel Kudus, Kamis (4/7/2019).

Dalam penelitian ini, Tim Peneliti Pendidikan Agama dan Keagamaan Balai Litbang Agama Semarang, Muzayanah dkk, dilakukan terhadap 310 kepala Madrasah Ibtidaiyah dan 1.822 guru Madrasah Ibtidaiyah di Jawa Tengah.

Hasilnya, nilai Indeks kepuasan guru terhadap kinerja pengawas diperoleh nilai sebesar 85,12. Sementara rata-rata kepuasan guru terhadap kinerja pengawas di Jawa Tengah sebesar 79,53. Temuan lain adalah beban kerja pengawas madrasah sangat tinggi. Bahkan, rasio jumlah pengawas dengan jumlah madrasah yang harus diawasi sudah tidak rasional. Satu orang pengawas idealnya hanya mengawasi 12 sampai 15 madrasah. Padahal, di satu kabupaten pengawas hanya lima orang, sementara jumlah madrasah yang harus diawasi ada 826 unit.

“Ini artinya rata-rata satu pengawas harus mengawasi 165 lembaga. Inilah di antara yang menyebabkan adanya gap antara harapan (expectations) dengan persepsi kinerja (perceived performance) pengawas,” kata Peneliti Senior pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang, Aji Sofanudin.

Selain itu, kemampuan pengawas dalam melakukan bimbingan khususnya terkait penelitian juga rendah.  Oleh karena itu, Balai Litbang Agama memfasilitasi penyusunan modul penelitian, khususnya terkait Penelitian TIndakan Kepengawasan (PTKp) bagi pengawas madrasah.

Dipilihnya Kudus sebagai tempat pelaksanaan diskusi ini merupakan bentuk apresiasi Balai Litbang Agama Semarang terhadap kinerja pengawas di Kabupaten Kudus.

“Kami ingin belajar bagaimana praktik terbaik kepengawasan madrasah yang sudah berjalan di Kabupaten Kudus bisa ditularkan di tempat lain,” ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, beberapa hal yang menyebabkan kualitas kepengawasan baik yaitu usia pengawas yang relatif muda. Atau antara 30 sampai 50 tahun. Kemudian mereka berpendidikan S-2 dan fasilitas yang mendukung. Selanjutnya hal yang tak kalah penting yang menyebabkan pengawas madrasah berkualitas tinggi karena program kerja berjalan dengan baik, akses informasi cepat, dan selalu melakukan kunjungan rutin sebulan sekali atau bahkan lebih pada even tertentu.

“Dalam kunjungan itu meliputi monitoring KBM, pembinaan guru, supervisi pembelajaran , supervisi 8 standar nasional pendidikan, dan monitoring try out. Selanjutnya yaitu adanya support dari kantor Kementerian Agama,” kata dia.

Menurut Ketua Pokjawas Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus, Sukarjo, ada beberapa hal yang menyebabkan kinerja pengawas madrasah di Kudus memperoleh nilai baik.

Menurut Sukarjo, pertama karena keadaan geografis Kudus yang secara umum mudah terjangkau.

Selajutnya karena budaya disiplin yang dikembangkan di lingkungan pengawas yakni dalam bentuk kegiatan apel pagi dan sore, adanya diskusi rutin pengawas sehingga memiliki kesamaan persepsi di antara semua pengawas.

Kemudian, setiap Kelompok Kerja Madrasah (KKM) memiliki tenaga administrasi atau full timer yang bekerja penuh waktu dalam mendukung kelengkapan administrasi kepengawasan.

“Kemudian secara umum usia pengawas madrasah di Kudus relatif muda serta berpendidikan S2,” tandasnya. (sumber)