Kapuslitbang Lektur dorong Kajian Manuskrip dengan “Gaya Baru”

0
107

Para peneliti, para filolog harus mampu mengeksplorasi manuskrip dengan berbagai sudut pandang. Manuskrip jangan hanya dilihat sebagai sebuah cagar budaya, tetapi harus mampu diterjemahkan dalam perspektif kekinian. Hal ini diminta oleh Kapuslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Muhammad Zein saat membuka Seminar Hasil Penelitian Inventarisasi dan Digitalisasi Naskah Keagamaan Bali.

Kegiatan Seminar Hasil Penelitian dilaksanakan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang. Kegiatan dilaksanakan di Hotel Aston, Denpasar pada tanggal 19-21 Juni 2019. Kegiatan menghadirkan para pemilik naskah keagamaan Islam di Bali serta stake holder terkait yang berasal dari Seluruh kabupaten/kota di Propinsi Bali.

Dalam kesempatan ini, Kapuslitbang juga menyampaikan perlunya pelestarian naskah-naskah keagamaan yang ada di nusantara. “Di Turki, untuk mengakses suatu manuskrip, harus melalui penjagaan para tentara secara ketat. Begitu berharganya manuskrip bagi mereka. Di kita  manuskrip masih berada di tangan bapak-bapak sekalian. Oleh karenanya, kita perlu meningkatkan perhatian kita dalam pemeliharaan manuskrip” ujarnya.

Oleh karenanya, beliau berharap Balai Litbang Agama Semarang tidak hanya berhenti dalam melakukan inventarisasi dan digitalisasi naskah keagamaan. Perlu ditindak lanjuti katalogisasi dan dilanjutkan dengan kajian terhadap konten/isi dari manuskrip tersebut. “Isi dari manuskrip dapat dikaji untuk memperkuat moderasi keagamaan, sebagaimana keinginan bapak Menteri Agama untuk menghadirkan sikap beragama yang moderat” sambungnya. Manuskrip dapat mendukung sikap moderat jika kita mampu mengkaji konten-konten yang terdapat didalam manuskrip.[*ry]