Pendidikan Keluarga 51 Persen Pengaruhi Sikap Seseorang Dalam Beragama

0
31

Kepala Balitbang Agama Semarang, Kemenag RI, Samidi mengungkapkan, maraknya paham radikalisme dan ekstrimisme beragama di Indonesia diperlukan sebuah terobosan. Terlebih, berkembangnya paham tersebut kini sudah masuk ke lembaga-lembaga pendidikan. Hal ini diperlukan adanya sebuah pedoman baku agar upaya menangkal paham radikalisme dan ekstrimisme dapat terlaksana secara sistematis.

Dari hasil penelitian Balitbang Kemenag, lingkungan pendidikan memang memengaruhi sikap seseorang dalam beragama. Antaralain dari organisasi keagamanaan sejumlah 6 persen, pesantren/majelis taklim 33 persen, pendidikan agama kampus 10 persen, dan pendidikan keluarga 51 persen. “Tingginya pengaruh lingkungan keluarga ini, menjadi latar belakang kami menyusun modul untuk menangkal paham radikalisme,” ungkapnya.

Modul tersebut, lanjutnya, nantinya akan didistribusikan ke seluruh organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, organisasi keagamaan, lembaga-lembaga pendidikan, dan instansi pemerintah. Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Sholahuddin Aly, yang hadir sebagai narasumber, mengungkapkan, membentengi paham radikalisme hingga level keluarga memang sangat penting. “Sebab, aktivitas anggota keluarga terutama yang masih menempuh pendidikan, waktu untuk berinteraksi dengan hal baru lebih banyak berada di sekolah dibanding di lingkungan keluarga,” ungkapnya. Di sisi lain, para generasi millennial saat ini sumber referensi mereka tak lagi berupa hard copy atau buku melainkan informasi yang diperoleh berasal dari media sosial yang mampu menembus ruang-ruang privasi tiap orang.

“Kalau hard copy mungkin masih bisa difilter, tapi ketika berasal dari internet tidak ada yang bisa  membendung. Ini juga PR bersama menjaga anak-anak millennial dari terpapar paham radikalisme dan ekstrimisme,” ungkap Gus Sholah, panggilan akrabnya. Selain itu, Gus Sholah juga menyoroti mengenai pentingnya keberadaan pendidik atau guru. Di beberapa kampus, khususnya kampus yang tidak berbasis agama Islam, paham radikalisme justru tumbuh subur.

“Jika kampus tersebut meluluskan sarjana, kemudian menjadi guru di sekolah, maka ini akan menyemai paham radikalisme di sekolah melalui rohis-rohis,” katanya. Menurutnya, membentengi para guru dari paham radikalisme sangat penting. Jika upaya membentengi keluarga dari paham radikalisme diperkuat, namun ternyata di sekolah ‘kebobolan’ maka akan sia-sia.(sumber : Tribun Jateng)