Pergaulan Bebas Pelajar, Keluarga Benteng Utama

0
577

Pergaulan bebas di kalangan remaja, khususnya pelajar SMA, merupakan realitas yang tidak bisa dipungkiri. Pergaulan melampaui batas itu memiliki berantai masalah di belakangnya, di antaranya seks bebas, aborsi, pernikahan usia dini, HIV/AIDS, dan traumatik.

Wacana tersebut mengemuka dalam forum Diseminasi Hasil Penelitian “Urgensi Pendidikan Kesehatan Reproduksi pada Siswa SMA” yang dilaksanakan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang, di Kuta, Badung, Bali (7/02/2019). Kegiatan tersebut diikuti oleh para guru agama, guru BK, pengawas, dan praktisi kesehatan reproduksi dari lingkungan pemerintah daerah kab. Badung.

Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama Kab. Badung Abbas Hamid, selaku narasumber, mengatakan bahwa dewasa ini perilaku pergaulan bebas yang mengarah pada seks bebas bukanlah hal tabu di kalangan pelajar. Abbas mengutip sebuah penelitian yang mengungkap bahwa 43% siswa SMA melakukan hubungan seks pranikah, dan 15% di antaranya melakukan aborsi.
“Diperlukan pendidikan seks secara komprehensif, meliputi seksualitas, reproduksi, baik dari sisi biologis, psikologis, sosiokultural, dan agama, sehingga siswa memiliki perilaku seksual yang sehat dan positif,” kata Abbas.

Abbas menambahkan, peran keluarga sangat penting dalam membentengi anak dari pergaulan bebas. Pasalnya, sekarang ini kesibukan orangtua membuat anak kurang perhatian. Orang tua tidak pernah melihat kapan anak berangkat dan pulang dari sekolah. Orangtua hanya menyediakan uang saku di meja, seolah-olah anak hanya membutuhkan uang. Padahal anak-anak juga membutuhkan kasih sayang dan perhatian.

Senada dengan Sindang Sari, Guru PAI di SMA N 1 Kuta, bahwa maraknya pergaulan bebas di Bali bukan dikarenakan banyaknya wisatawan asing yang mengincar para remaja. Tetapi masalah dari lingkup keluarga merupakan faktor utama.

“Anak-anak kekurangan teladan. Anak tidak mengamalkan ajaran agama karena ketika di rumah tidak mendapatkan teladan dari orangtuanya,” katanya.

Kalau anak bermasalah sejak dari rumah, maka ketika keluar dari rumah dia akan menemukan masalah yang lebih besar. Walhasil, keluarga adalah benteng utama. Orangtua harus lebih peduli dan memahami pergaulan anak.
“Komunikasi dan komitmen antara orangtua dengan anak itu sangat penting,” tegas Sindang. (syafa’)