Membingkai Aliran-aliran Islam di Indonesia

0
1065
Foto: Republika/Aditya Pradana Putra

Lahirnya beragam aliran atau sekte di dalam Islam tak lepas dari situasi sosial-politik, di samping dinamika pemikiran dan pencarian spiritualitas. Perbedaan paham antaraliran yang rentan menyulut konflik mestinya tak semata-mata dilihat dari kacamata teologis, tetapi juga sosiologis.

Tahun 2011 lalu, fakta keagamaan di Indonesia ditutup dengan catatan buram. Di penghujung Desember, kompleks madrasah, rumah ibadah dan kediaman pemuka kaum sekte Syi’ah di Sampang Madura dibakar.

Jamak pihak menduga konflik itu berpangkal dari seteru keluarga yang beda paham, yakni kakak beradik yang mengikuti Sunni dan Syi’ah. Masalah pribadi yang disangkutkan perbedaan keyakinan, memang bisa dengan mudah dimanfaatkan untuk memobilisasi kelompok. Mafhum jika taksiran yang muncul adalah adanya pihak ketiga yang sengaja memecah belah Sunni dan Syiah.

Tidak sesederhana itu, sejauh konflik itu berbelitan dengan “prasangka sesat” yang ditujukan kepada sekte Syi’ah di Indonesia selama ini. Mengingat, gesekan antara Sunni dan Syi’ah di Madura sebetulnya cukup panjang. Pada tahun 2006, sekitar 50 Ulama Madura mengeluarkan maklumat atas ajaran Syi’ah yang disebarkan Tajul Muluk Ma’mun di Sampang tersebut. Ajaran yang disebarkan Tajul Muluk Ma’mun dinilai Syi’ah Ghulah (Rifadlah) karena sebagian doktrin yang membenci dan merendahkan Sahabat Nabi atau khulafa’ ar-rasyidin, di samping berlebih-lebihan di dalam ahl al-bait. Jadi, tidak mustahil konflik tersebut adalah akumulasi dari kegirisan masyarakat Madura terhadap sebagian ajaran Syi’ah yang didakwa keliru.

Belum lama ini Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa Swiss menyoroti perkara intoleransi agama yang marak terjadi di Indonesia. Pembandingan PBB terkait intoleransi keagamaan di Indonesia dengan negara-negara lain semata-mata mengacu perkara hak asasi manusia bisa jadi memang kurang komprehensif. Mengingat, Indonesia terbangun atas bermacam suku dan tradisi yang turut mewarnai keyakinan atau ekspresi keagamaan. Di banding negara-negara lain, variasi kelompok keagamaan di Indonesia lebih kompleks.

Terkait itu, Menteri Agama Suryadharma Ali justru menyarankan agar negara lain belajar toleransi ke Indonesia. Ia “menantang” negara-negara lain untuk menunjuk negara mana di belahan dunia ini yang memberikan toleransi beragama secara longgar seperti di Indonesia.

Penilaian PBB tersebut juga dibantah oleh mantan Ketua PBNU Hasyim Muzadi. Menurutnya, tuduhan PBB itu tak berdasar. Sebaliknya, Hasyim membandingkan sempitnya toleransi agama di Swiss yang sampai kini tidak memperbolehkan pendirian menara masjid, atau di Prancis yang masih mempermasalahkan jilbab.

Kilas Balik Sejarah

Fenomena keragaman aliran yang rentan meletuskan konflik sosial umat bukan cuma terjadi sekarang ini. Berpuluh abad silam, di zaman klasik ketika perkembangan Islam mulai signifikan, konfrontasi politik maupun perbedaan pemikiran teologi telah sukses membidani kelahiran banyak sekte atau aliran (firqah) dalam Islam.

Ahli sejarah Arab Philip K Hitti (2005) menjelaskan,  pada paruh pertama abad ke-8, yakni masa Dinasti Umayyah, muncul satu gerakan pemikiran filosofis yang lantas kondang dengan sebutan Mu’tazilah. Sekte ini mengedepankan akal dalam berteologi. Selain itu mengusung paham kebebasan berkehendak. Paham itu diikuti kaum Qadariyah yang saat itu bertolakbelakang dengan Jabbariyah dalam memahami takdir.

Sementara itu, muncul sekte politik keagamaan seperti Khawarij, Syi’ah dan Murji’ah. Ketiganya lahir di tengah kegentingan politik kekhalifahan Islam semenjak masa sahabat.

Embrio Syi’ah adalah kelompok politik yang mendukung Ali sebagai pewaris sah kepemimpinan Rasulullah. Syi’ah mengukuhi sistem imamah sebagai landasan politik Islam, yang secara ideologis dipertentangkan dengan khilafah. Dalil politik itu lantas mekar dalam wacana teologi Syi’ah yang meyakini keturunan Ali (ahl al-bait) sebagai imam sejati.

Masih menurut Hitti, di sebelah Syi’ah ada Khawarij. Mulanya adalah pendukung setia Ali yang kemudian keluar dari barisan. Kelompok politik ini berulang kali mengangkat senjata menuntut hak istimewa Bany Quraisy untuk menduduki tahta kekhalifahan. Dalam teologi, khawarij tergolong pendukung utama gerakan puritanisme Islam. Melarang praktik-praktik kultus terhadap orang suci, selain memberangus kelompok-kelompok persaudaraaan para sufi.

Di antara Syi’ah dan Khawarij bercokol kaum Murji’ah yang cenderung netral menyikapi konfrontasi politik dan inklusif dalam berteologi. Murji’ah memandang hanya Allah yang berhak menghukum manusia yang berbuat dosa.

Sunni muncul belakangan, dan lebih di aras pemikiran. Weinata Sairin (2006) mencatat, sekte Sunni muncul sebagai reaksi pemikiran Mu’tazilah yang mengesampingkan al-Qur’an dan as-Sunnah jika tak diterima akal. Lahirnya Sunni yang dipelopori Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi adalah sekaligus buntut pertikaian politik dan akidah yang mengguncang persatuan umat muslim saat itu. Sunni condong kompromistis dalam menyikapi pertikaian politik maupun perdebatan teologis.

Kilas balik sejarah itu menunjukkan, munculnya sebagian aliran dalam Islam berakar dari pergelutan politik. Klaim-klaim teologis banyak direproduksi untuk menopang kepentingan sekte politik. Sementara itu, sebagian sekte juga muncul karena gejolak pemikiran teologi Islam.

Perkembangan sekte-sekte di dalam Islam sekarang ini lebih bervariasi. Kini bermacam mazhab atau paham muncul dalam fiqih, begitu juga dalam tasawuf. Satu sekte pun melahirkan beberapa subsekte yang mempraktikkan ajaran-ajaran berlainan.

Gerakan “Agama Baru”

Fenomena aliran Islam di Indonesia kontemporer bukan terbatas pada penampakan aliran-aliran besar seperti Sunni, Syi’ah, maupun Mu’tazilah. Banyak aliran muncul dengan modus mengawinkan ajaran Islam dengan kepercayaan lokal. Perkawinan ajaran itu memang berbau sinkretik di satu sisi, dan di sisi lain merupakan upaya mengintegrasikan nilai atau tradisi lokal dengan ajaran Islam di dalam sistem religi. Taruhlah Islam Wetu Telu/Islam Sasak, Islam Aboge, atau sejenis Islam Kejawen.

Persinggungan Islam di Indonesia dengan Timur Tengah juga menjadi medium bagi masuknya varian sekte Wahabi atau Salafi sekitar abad ke 19. Di samping agenda puritanisme Islam, sekte tersebut juga menyusupkan ideologi politik yang hendak diperjuangkan. Kini Salafi-Wahabi secara terselubung memekarkan akar-akarnya lewat ormas-ormas keagamaan seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Negara Islam Indonesia (NII), Front Pembela Islam dan sejenisnya. Selama ini mereka getol memperjuangkan tegaknya sistem khilafah.

Perbincangan mengenai aliran Islam di Indonesia terkini tidak bisa lepas dari gerakan pencarian spiritualitas yang lantas membentuk atau memunculkan varian baru Islam. Krisis spiritualitas di zaman modern memicu menjamurnya gerakan-gerakan sempalan. Sepanjang abad 20 hingga kini, di Indonesia menjadi “ladang gembur” bagi tumbuhnya sekte-sekte kecil, yang populer di antaranya Islam Jamaah, Ahmadiyah Qadian, DI/TII, Mujahidin Warsidi (Lampung), Syi’ah, Baha’i, Inkarus Sunnah, Darul Arqam, Al-Qiyadah al-Islamiyah, gerakan Usroh, Salamullah/Lia Eden, Brahma Kumar atau aliran tasawuf dan tarekat yang berfaham wahdatul wujud.

Menurut Mukhsin Jamil (2008), seorang pemikir sekaligus peneliti kajian keagamaan, varian-varian Islam itu tergolong sebagai gejala “gerakan agama baru”. Tiga sebab yang melatarinya, pertama, gerakan spiritualitas pencarian, seperti Lia Eden, Al-Qiyadah al-Islamiyah atau Brahma Kumar. Kedua, revitalisasi tradisionalisme seperti tercermin dalam gerakan sufisme kota atau kelompok-kelompok fundamentalis-radikalis. Ketiga, revitalisasi agama lokal, misal Sunda Wiwitan, Budho Tengger atau Samin.

Memahami Islam acap buntu jika melulu dipandang dari sudut teologis yang berujung pada klaim “sesat-menyesatkan”. Bahkan klaim semacam itu kerap dijadikan dalih yang membenarkan aksi-aksi anarkistis yang semakin memperkeruh toleransi beragama.

Fenomena aliran agama di Indonesia kini perlu dilihat pula dengan pendekatan sosiologis. Dalam pendekatan itu, label ortodoks (sesuai ajaran) dan sempalan bukan konsep abadi dan mutlak, tetapi relatif dan dinamis. Martin Van Bruinessen (1992), seorang pemerhati Islam Indonesia menilai, secara politis ortodoksi adalah paham yang didukung penguasa, sedangkan paham yang tidak disetujui dicap “sesat”. Bruinessen juga mensinyalir, gerakan sempalan seringkali lahir sebagai penolakan terhadap paham dominan, sekaligus merupakan  protes sosial-politik.


Oleh: Joko Tri Haryanto