Potensi Radikalisme di Kalangan Ormas, Pelajar, dan Mahasiswa

0
406

Kegagapan mengadaptasikan ajaran Islam dengan kultur dan adat-istiadat masyarakat setempat menjadi salah satu akar eksklusifitas umat muslim. Komunitas imigran muslim kesulitan beradaptasi dengan nilai-nilai budaya di tempat tinggalnya yang baru. Beragama Islam diasosiasikan sebagaimana yang mereka jalani di negeri asal.

Hal itu disampaikan oleh Prof. Koeswinarno, M.Hum. dalam acara Halal Bihalal dan Halaqah Ulama dengan tema “Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Jawa Tengah” yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah dan Bakesbangpol Jateng (18-19/7/2018).

Koeswinarno menjelaskan, fenomena Islam transnasional memiliki kaitan erat dengan gerakan radikalisme. Tak kecuali di Indonesia, persoalan adaptasi dan persenyawaan antara ajaran Islam dengan ekspresi budaya dan adat-istiadat masyarakat pun penuh tegangan dan gugatan. Dialog antara ajaran Islam dengan kultur Indonesia yang melahirkan warna ”Islam Indonesia” dianggap sarat bidah. Ijtihad-ijtihad baru pun dituduh menyebabkan sekularisme, penyelewengan, Islam dan kesesatan. Ketidaksesuaian pemhaman tersebut melahirkan fanatisme yang mengarah pada radikalisme.

“Selama tiga tahun terakhir ini Balai Litbang Agama Semarang melakukan riset tentang radikalisme di kalangan ormas atau kelompok keagamaan, generasi sekolah, dan perguruan tinggi. Temuan riset-riset tersebut menunjukkan, pemahaman keagamaan, transmisi keagamaan, dan literatur keagamaan baik di tingkat ormas, siswa di sekolah, atau mahasiswa di perguruan tinggi umum memiliki potensi radikalisme,” ungkap Koeswinarno.

Exit Poll terhadap 688 responden (mahasiswa di perguruan tinggi umum) menunjukkan, 51% setuju dengan penerapan hukum Islam di Indonesia; 47% tidak setuju, sisanya tidak menjawab. Terkait khilafah, 41% menganggap khilafah sesuai untuk diterapkan di Indonesia, sebaliknya 56% menganggap khilafah tidak sesuai apabila diterapkan di Indonesia. (safa)