Sangkan Paraning Fitri

0
169
Gambar dari baltyra.com

Bagi orang Jawa namanya laku topobroto, sedang bagi orang Islam namanya syiam atau puasa. Jawa dan Islam sama-sama menekankan pentingnya berpuasa untuk meningkatkan kualitas diri atau pribadi. Itu sebabnya dalam kepercayaan Jawa orang yang gemar melakukan topobroto akan mendapatkan karunia dari Gusti kang Murbeng Dumadi (Tuhan yang Maha Pencipta) berupa wibowo, waskito,  bahkan sekti mondroguno, yakni kemampuan-kemampuan personal untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Sedangkan dalam ajaran Islam, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an (QS. Al-Baqarah:183), tujuan puasa ini untuk membentuk kualitas muttaqin yaitu orang-orang yang bertakwa.

Dengan persamaan-persamaan itulah maka Islam di Indonesia, khususnya Jawa, diperkaya dengan tradisi dan penghayatan Jawa. Sebaliknya, Kepercayaan Jawa pun diperkaya dengan tradisi Islam. Kedua kutub tradisi ini saling memperkaya dan melengkapi menjadi suatu khazanah keberagamaan yang khas. Memasuki bulan Ramadlan, hampir semua orang Jawa pasti akan ikut berpuasa. Tradisi puasa ini saling berselingkuh menjadi makna yang sangat dalam  di ruang spiritualitas kepercayaan Jawa dan  dimensi mistik Islam (tasawuf).  Di ranah spiritualitas inilah kedua tradisi ini bertemu dan mendapatkan kecocokan penghayatan, bahwa realitas bukanlah bentuk yang fisikal ini melainkan yang spiritual.

Dalam pandangan tasawuf, yang realitas dan sungguh-sungguh ada hanyalah Tuhan. Bentuk-bentuk kehidupan di dunia ini tidak lain hanyalah manifestasi Tuhan. Sebuah tradisi sufi,  dikisahkan bahwa Tuhan menyatakan bahwa Dirinya adalah khazanah yang tersembunyi, karena itu Ia kemudian menciptakan dunia ini agar Dirinya dapat diketahui. Dikisah yang lain, Tuhan  sedemikian cintanya memandang Dirinya Sendiri, sehingga perasaan ini melahirkan alam semesta. Maka jadilah kehidupan ini adalah bentuk kecintaan Tuhan terdapat Dirinya, dan di dalam semesta ini menyimpan kerinduan untuk senantiasa kembali kepada-Nya.

Itu sebabnya dalam tradisi sufi falsafi, harapan tertinggi dari kehidupan yang mereka jalani adalah wahdatul wujud (bersatu dengan Tuhan). Sementara bagi orang Jawa, harapan ini selaras dengan konsep manunggaling / jumbuhing kawulo-Gusti (menyatunya hamba dengan Tuhan). Atau dalam bahasa yang sudah sangat dipahami masyarakat kita adalah ucapan inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, sesunguhnya kita berasal dari Allah dan sesungguhnya kepada Allah jualah  kita akan kembali. Dalam konsep Jawa dikenal istilah sangkan paraning dumadi, pemahaman tentang hakikat kehidupan ini, asal dan tujuan penciptaan manusia.

Keselarasan antara kehidupan diri dengan Yang Ilahi merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai harapan spiritual di atas.  Oleh karena tujuan itu adalah tujuan spiritual, batiniah, suci dan indah, maka pribadi-pribadi ini harus disucikan. Puasa atau Topobroto  dipergunakan untuk menekan kualitas rendah kemanusiaan yang bersumber pada  syahwat hawa nafsu, nafsu amarah dan nafsu lawwamah, sehingga  mencapai nafs  al-muthmainnah. Nafs al-Muthmainnah inilah kondisi jiwa spiritual yang paling selaras dengan Tuhan, itu sebabnya nafs jenis ini senantiasa dipanggil-panggil untuk bertemu dengan Tuhan (QS, al-Fajr:27-30). Itu sebabnya dalam ibadah puasa di bulan Ramadlan, tidak hanya diperintahkan untuk mencegah makan, minum dan seks di siang hari saja, tetapi juga mempuasakan semua perilaku dan keinginan rendah, seperti tindak kriminal, perilaku yang mengganggu ketertiban, bahkan berburuk sangka, menggunjing, dan sebagainya.

Allah yang Mahaindah, Mahasuci lagi Maha terpuji hanya bisa didekati oleh jiwa yang bersih, yang suci dan yang terhiasi dengan perilaku terpuji. Itu sebabnya dalam berpuasa Ramadlan juga hakikatnya menerapkan konsep penyucian jiwa sebagaimana dalam konsep tasawuf, yaitu takhalli, tahalli dan tajalli.  Dengan berpuasa umat Islam menyucikan diri dan jiwanya dengan meninggalkan dan menekan bentuk-bentuk  keinginan rendah berupa dosa-dosa (takhalli), sekaligus menghiasi diri dengan amal ibadah yang mulia seperti mengkaji al-Qur’an, bersedekah, beramal, berzakat, jujur, dan sebagainya (tahalli),  hingga pada akhir-akhir bulan Ramadlan  akan dipertemukan dengan lailatul qadar (malam yang lebih baik dari malam seribu bulan; QS. Al-Qadr:1-5) sebagai puncak penghayatan dari upaya jihad al-nafs (tajalli).

Dengan berpuasa yang benar, sempurna, dan senantiasa meningkat kualitasnya, maka akan menghasilkan suatu kepribadian yang fitri, di mana Tuhan  mengampuni dosa-dosa yang telah lalu, sehingga kita menjadi bersih kembali laksana seorang bayi yang masih suci tanpa noda dosa. Itu sebabnya setelah selesai berjuang melawan hawa nafsu selama bulan Ramadlan, kita akan mendapatkan kemenangan dan merayakan idul fitri, kembali kepada kesucian. Pengampunan dari Tuhan sebagai hablumminallah kemudian diimbangi dengan budaya shilaturrahim dan halal bi halal untuk mendapatkan pengampunan dari sesama manusia sebagai hablumminannas.

Tujuan puasa adalah meningkatnya taqwa, berkualitasnya moralitas dan akhlak. Akhlak adalah pakaian yang membungkus jiwa.  Dalam tembang Jawa, Ilir-Ilir disebutkan,

“…Cah angon… cah angon penekno blimbing kuwi / lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro / Dodot iro… dodot iro kumitir bedah ing pinggir / dondomano jlumantono / kanggo sebo mengko sore…”

Hidup yang penuh dinamika, jiwa yang senantiasa  terombang-ambing  arus dunia, menjadikan dodot iro, pakaian kita, menjadi kusut masai, kotor, bahkan sobek tercabik oleh hawa nafsu. Oleh karenanya pakaian itu harus senantiasa disucikan, diperbaiki, dirapikan dan dihiasi. Sebaik-baiknya pakaian, dalam Al-Qur’an disebutkan, adalah pakaian takwa. Pakaian inilah yang akan kita pakai saat  kita sebo, menghadap-Nya saat ajal menjemput sewaktu-waktu.

Hakikat idul fitri adalah untuk mengembalikan keselarasan diri pribadi dengan Ilahi, sehingga setelah ini  perbuatan kita menjadi semakin mulia (akhlaq al-karimah) dan semakin dekat dengan Tuhan (taqarrub ilallah). Dan juga perlu mewaspadai agar Idul Fitri tidak hanya menekankan apek lahiriah belaka, perayaan, pakaian-pakaian indah, makanan-minuman yang enak-enak, plesiran yang seringkali hal-hal itu malah mengganggu keselarasan nan-Ilahi yang telah dibina selama Ramadlan.


: Joko Tri Haryanto