Halalbihalal Modern

0
169

Sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia melaksanakan Halalbihalal atau Syawalan selepas Idilfitri,yang penting masih bulan Syawal tentunya. Begitu juga dengan kantor Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang juga melaksanakannya. Syawalan bertempat di lobby kantor di ikuti seluruh pegawai  beserta keluarga juga beberapa alumni pegawai BLAS.

Bagaimana halalbihal dimulai, atau mulai dilakukan di Bumi Indonesia menjadi salah satu topik hangat tausyiah oleh Bapak Abdul Jamil. Beberapa kalangan ulama baik dari NU atau Muhammadiyah menyampaikan versinya masing masing. Menurut beliau halalbihalal adalah penegasan kondisi sosiologis masyarakat Indonesia, ini merupakan ciri dari masyarakat kita yang banyak melakukan ritual kebudayaan. Misal  sebelum bayi lahir saja sudah di slameti.

Halalbihalal juga dapat dijabarkan dari campuran culture penegasan identitas yang secara subtansi adalah mensyukuri, mengekspresikan rasa gembira dan mohon maaf. Makna lebih dalam lagi bermaksud di akherat nanti tidak ada ganjalan “dosa” dimasing-masing personal. Rasanya jika belum melakukan salaman atau maaf-maafan  belum terasa lega.

Kemudian kegiatan ini bertranformasi di setiap zaman. Dahulu halalbihalal dilakukan secara sorogan, personal dengan personal. Di Jawa seperti sungkeman dengan mengunakan tutur halus meminta maaf dan dibalas juga dengan ucapan tutur dari orang yang dimintai maaf. Berkembang lagi karena banyaknya keturunan keluarga atau saudara-saudara menjadi kumpulan trah. Biasanya hal ini dilaksanakan di rumah keluarga yang paling tua, misal kakek atau kakak tertua. Berkembang lagi lintas keluarga, dapat berupa syawalan rt, teman kantor  dan lain-lain. Terkini adalah halalbihalal modern, dilaksanakan menggunakan teknologi terkini. Media sosial wadahnya. Cukup dengan mengirim pesan yang sama ke berbagai teman, tanpa harus bertemu sudah dapat menerima permintaan maaf dan doa. Praktis lagi dikirim ke group, satu pesan untuk semua anggota. Seperti itulah transformasi budaya.

Tujuan yang pasti adalah kembali menjadi fitrah, menang dari melawan hawa nafsu kita sendiri dan mudah-mudahan diterima amalan kita. Aamiin. (krt)