Memetakan Kompetensi Guru PAI

0
1550

Wonosobo – Minimnya guru PAI berakibat pada kelebihan beban mengajar dan kejenuhan kerja. Hal ini tentunya berimplikasi pada kapasitas guru PAI dalam melaksanakan tugas dan fungsinya untuk mengajar PAI.

Pernyataan tersebut disampaikan Kasi PAIS Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, H. Imron Awaludin, S.Ag. kepada penelitian BLA Semarang ketika menghimpun data penelitian  “Peta Kompetensi Guru PAI SMA/SMK di Jawa Tengah”, Selasa 05/06/2018.

Dengan adanya penelitian tentang kompetensi guru PAI tersebut, Imron berharap kompetensi dan kapasitas guru PAI dapat digambarkan secara riil. Hal itu akan menjadi landasan kebijakan bagi pengembangan kapasitas guru PAI.

Umi Muzayanah, Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan mengatakan bawah penelitian ini dilakukan di 12 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang merupakan perwakilan dari enam karesidenan yang ada di Jateng, di mana pemilihan nama kabupaten/kota dilakukan secara acak. Dua belas kabupaten/kota tersebut adalah Cilacap, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Surakarta, Sukoharjo, Salatiga, Demak, Kota Pekalongan, Kota Tegal, Kudus, dan Jepara.

Selanjutnya untuk memperoleh peta kompetensi guru PAI, diambil sampel sebanyak 360 guru PAI SMA/SMK, di mana setiap kabupaten/kota diambil beberapa sampel secara proporsional. Pemilihan nama guru yang menjadi sampel juga dilakukan secara random dengan mempertimbangkan status kepegawaian (PNS/Non PNS) dan sertifikasi/non sertifikasi.

Kuesioner penelitian disusun untuk mengukur tingkat ketercapaian lima kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional, dan kompetensi kepemimpinan. Empat kompetensi pertama didasarkan pada Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru. Sedangkan PMA No. 16 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan Agama pada Sekolah, guru Pendidikan Agama (Islam) tidak hanya dituntut memiliki empat kompetensi sebagaimana disebutkan di atas, melainkan juga harus memiliki kompetensi kepemimpinan. (mut)