Dluwang Debog Tegalsari Ponorogo

0
189

Di sebuah desa di Ponorogo, tepatnya di Desa Tegalsari Kecamatan Jetis, terdapat situs Makam Kangjeng Kiai Bagus Kasan Besari. Tokoh Fenomenal yang merupakan menantu Susuhunan Pakubuwono III Kraton Surakarta dan Guru Raden Ngabehi Ronggowarsito, Pujangga Kraton Surakarta.

Setidaknya ada tiga hal yang dapat dinikmati dan diamati dalam wisata ziarah di sini, makam, masjid, dan dluwang debog.  Selain Makam Kiai Kasan Besari, dalam komplek yang sama terdapat makam Kyai Ageng Muhammad Besari (Kakek Kiai Kasan Besari), dan makam Kiai Muhammad Ilyas (Ayah Kiai Kasan Besari). Posisi komplek makam tepat berada di barat masjid.

Yang Kedua adalah Masjid Agung Tegalsari yang juga dikenal dengan masjid kubah lempung (gerabah), termasuk masjid tertua Jawa dan juga saksi dari pesantren Gebang Tinatar, yang oleh Martin V Bruisennen dianggap pesantren tertua di Jawa. Dari dua objek ini, makam dan masjid dapat digali banyak informasi sejarah bangsa yang sudah banyak ditulis dan dibahas oleh para penulis sebelumnya.

Objek ziarah ketiga yang kurang diketahui oleh masyarakat adalah produksi dluwang gedog. Dluwang gedog diproduksi awal mulanya oleh Mbah Djaelani, yang masih keturunan dari Kiai Kasan Besari. Hingga saat ini, pembuatan dluwang gedog masih bisa dirunut di rumah penerus ketiganya, yaitu di rumah Bapak Cipto Yuadi. Yang berada di selatan masjid Tegalsari.

Pembuatan kertas dluwang gedog ini merupakan usaha kakek buyut Cipto Yuadi, tetapi saat ini kurang tertarik untuk meneruskan.

Saya masih bisa meneruskan pembuatan ini, tetapi sudah tidak tertarik meneruskan. Tidak ada akomodasi. Sebenarnya permintaan banyak, baik dari pesantren dan lain-lain. Menurut eyang saya, kertas ini yang digunakan sebagai bahan uang dollar. Maka hingga sekarang Jepang dan Amerika mencari-mencari pohon ini.

  • Terkait kertas naskah ini, mulai dari ayah saya sudah mendapat penghargaan dari propinsi, sayapun juga beberapa kali mendapat undangan menjadi narasumber di kampus-kampus. Akan tetapi, saya kurang tertarik lagi sekarang. Pernah saya membuka pintu untuk akses dan praktek pembuatan kertas PKL dari Unair Surabaya. Akan tetapi, mereka kurang terimakasihnya dan tidak ada timbal balik apa-apa. Setelah itu, saya tidak membuka hubungan lagi dengan pihak kampus.
  • Prof Yamamoto pakar naskah mendengar dari dosen Unair (Tisna) yang menceritakan proses seperti yang saya jelaskan. Akhirnya Yamamoto mencari sendiri sumbernya, di sini, di Tegalsari.
  • Cara pembuatan kertas ini prinsipnya, batang pohon sae (glugu) dipotong sesuai ukuran, misal 25 cm. dikuliti, lalu dibuang kulit arinya, kemudian direndam dalam air sehari, kemudian dipukul-pukul dengan palu pipih lebar, akhirnya setelah lebar sesuai kebutuhan, ditempelkan di gedebong pisang hiingga kering sendiri dan jatuh.
  • Pohon ini dulu dicari di daerah pinggirsari. Dulu katanya pohon ini dari daerah Jawa Barat.

Tinta dari Blendok (tlutuh) benalu, yang menempel di pohon jeruk dan mangga. Blendok diberi kaktus, lalu ditambah langes, dimasukkan dalam bumbung pring apus. Ditunggu sampai membusuk, sudah bisa

Selain membuat kertas dluwang gedog, pak di rumah Pak Cipto Yuadi juga masih tersimpan beberapa naskah kitab dengan kertas dluwang gedog dan tulisan tangan, milik Mbah Djaelani. Di antara yang dieprlihatkan berupa naskah-naskah fikih (salinan fathul mu’in) dan kitab tauhid. Menurut Cipto Yuadi, dulu juga ada kitab-kitab tipis berupa sejarah dan ilmu kanuragan, hanya saja lupa menyimpan. Beberapa lainnya juga sudah discan dan disimpan di perpusda. (ulil)

Sumber: Cipto Yuadi 12 Oktober 2017