Pemeliharaan seni rebana melalui lomba

0
196

(Batu, 8 Agustus 2016). Seni Rebana merupakan seni tradisional yang memasyarakat sampai ke penjuru Tanah Air.  Keberadaannya perlu dilestarikan dalam rangka memerangi seni-seni modern yang berpotensi merusak moral generasi sekarang. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. H. Koeswinarno, M.Hum dalam acara pembukaan kegiatan Workshop Penyempurnaan Panduan Lomba Seni Rebana di Jawa Timur. Pembukaan kegiatan workshop tersebut dihadiri oleh Kepala Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan dan diikuti oleh para peserta yang terdiri atas para peneliti, akademisi, perwakilan ormas, dan praktisi seni rebana.

Pada pembukaan kegiatan workshop tersebut, Choirul Fuad Yusuf selaku Kepala Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan turut membenarkan bahwa hingga saat ini belum ada pedoman standar yang memiliki kualifikasi memadai untuk dijadikan sebagai pedoman penyelenggaraan lomba seni rebana. “Pada spektrum lebih luas, secara sosial budaya ternyata ada sebuah kecenderungan bahwa hingga hari ini seni budaya yang mengandung musik sangat digemari oleh masyarakat. Namun sayangnya, musik modern lebih mengambil tempat daripada musik-musik lawas yang menjadi ranah budaya mereka.” Ucap Choirul Fuad.

Dengan adanya kegiatan workshop tersebut, diharapkan pedoman yang dihasilkan dapat menjadi rujukan yang berkualitas untuk mendukung kegiatan pemeliharaan seni rebana melalui lomba. Sebagaimana yang disampaikan pula oleh Kepala Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, “Seni rebana sangat perlu dilestarikan, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengadakan lomba. Pedoman yang dihasilkan ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan juri secara nasional”.