Mendorong Siswa Memiliki Kompetensi Spiritual

0
173

Implementasi kurikulum baru biasanya menimbulkan “keresahan” bagi tenaga pendidik maupun sekolah. Hal ini sangat wajar mengingat sosialisasi yang tidak lebih cepat dari informasi yang diterima oleh sekolah maupun penerapan kurikulum yang terkesan “dipaksakan” sebelum sosialisasi dan SDM benar-benar telah disiapkan.Sebenarnya Kementerian Pendidikan Nasional telah melakukan langkah-langkah konstruktif, yaitu memberikan pelatihan terhadap tenaga pendidik yang akan memberikan sosialisasi ke berbagai daerah dan membuat pilot projek terhadap beberapa sekolah yang siap menerapkan kurikulum 2013.

Salah satu dari kurikulum yang akan diimplementasikan di sekolah adalah Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Kurikulum ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan serta membentuk sikap dan kepribadian peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama. Tujuan ini tidak lepas dari Kompetensi Inti (KI) yang memuat fakta, konsep, prosedur, metakognitif, dan kemampuan menerapkan pengetahuan yang terkandung dalam mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.

Melalui kompetensi inti dalam mata pelajaran yang menjadi goal oriented ini diharapkan, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan saja (aspek kognitif) yang bersifat verbal, melainkan setelah pembelajaran selesai peserta didik mampu menginternalisasikan dalam sikap dan mengimplementasikan dalam kehidupan sosial. Di sinilah, bahwa pendidikan Agama dan Budi Pekerti dalam dimensi praktis sangat mendorong peserta didik memiliki kompetensi spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan yang semuanya saling terkait.

Kondisi kurikulum Pendidikan Agama dan Budi Pekerti pada kurikulum 2013 merupakan kondisi ideal, akan tetapi bagaimana pada tataran praktis?. Sikap pragmatis tenaga pendidik memungkinkan meletakan kurikulum ini berada di simpang jalan, akan tetapi sikap optimis akan menumbuhkan semangat tenaga pendidik lebih yakin bahwa sesungguhnya yang akan dicapai dalam Pendidikan Agama dan Budi Pekerti adalah tidak hanya domain pengetahuan, akan tetapi pembentukan sikap, perilaku dan karakter peserta didik.

Optimisme tenaga pendidik dalam mengimplementasikan Pendidikan Agama dan Budi pekerti sesungguhnya sudah merupakan kontribusi yang kuat bukan hanya “mengamankan” Permendiknas melainkan bagaimana membangun peserta didik ke depan memiliki karakter yang baik sesuai dengan Harapan Masyarakat Indonesia atau harapan bangsa yang masih memiliki nilai-nilai moralitas dan relegiusitas.

Dengan demikian, apabila Pendidikan Agama dan Budi Pekerti pada kurikulum 2013 dapat diimplementasikan pada seluruh sekolah, bangsa Indonesia akan memiliki generasi penerus yang beriman, berilmu, berakhlak, berbudi perkerti baik, cerdas hatinya, dan cerdas otaknya, serta cerdas perilakunya. Kalau sudah demikian, tidak perlu dipertanyakan lagi kontribusi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti terhadap bangsa ini, karena bangsa ini akan tersenyum memiliki generasi bangsa yang hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.