Asah Tingkat Pendengaran

0
134

Dikte secara istilah dapat diartikan sebagai ‘membaca dan biasanya dengan keras untuk dapat ditulis oleh orang lain’.Dalam KBBI, dikte dipadankan dengan imla. Dengan demikian, dalam dikte melibatkan setidaknya tiga kompetensi bersamaan, membaca (oleh guru), menyimak, lalu menuliskan. Dalam kaitannya dengan tulisan ini, saya hanya ingin mengingatkan kembali bahwa dikte/ imla dalam pembelajaran bahasa Arab itu juga metode yang penting, dan tidak baik jika diabaikan. Dalam buku ajar B. Arab MI yang saya jumpai, sepertinya (semoga saya salah) tidak/ kurang saya temukan perintah ‘dikte’. Jikapun ada dalam operasinal pembelajarannya di madrasah, bisa jadi ini merupakan inisiatif dari pengajar, selain praktek hafalan kosakata.

Manfaat dikte tentu saja besar, paling tidak membuat siswa terlatih menuliskan apa yang ia dengar dengan benar. Dari tulisan siswa dapat diketahui tingkat kebenaran penyerapan informasi yang didengarnya. Setelah itu, karena kemampuan menulis selaras waktunya dengan kemampuan membaca, maka setelah tulisan siswa dari hasil mendengar itu sudah benar, maka bacaan (informasi) yang dibaca siswa akan benar. Kemudian jika redaksi bacaan (informasi) itu benar, maka benar pula urutan selanjutnya, yaitu dihafalkan ataupun dilaksanakan.

Sedikit saya ungkapkan pengalaman suatu kasus yang menurut saya terkait dengan keterampilan ini. Barangkali anda pun sering sholat berjamaah di tempat yang berbeda-beda, berpindah dari mushala atau masjid satu e yang lain, dengan imam yan gberbeda pula tentunya. Adakalanya bacaan imam memang fasih dengan tempo dan nada yang indah, sehingga membuat shalat jamaah anda terasa khusyuk. Akan tetapi, barangkali anda pernah pula menjumpai berjamaah dengan imam yang bacaannya kurang fasih, baik makhraj, panjang pendek, ataupun lagunya tidak enak didengar.

Sebab apa yang kira-kira dapat anda pikirkan dari adanya imam yang kedua ini. Penyebabnya bisa beragam, tetapi yang termasuk dominan kira-kira menurut saya ada kaitannya dengan sistem ‘dikte’ yang sedang saya ulas ini. Orang menghafal surat, ayat, atau doa bisa berasal dari teks tertulis, tetapi ada pula yang berasal dari mendengar saja (bisa dikatakan face to face) dari guru yang melafalkan kemudian ditirukan oleh murid.

Menghafal dengan cara pertama, memabca dari teks, kemudian otak menyimpan memori dan kemudian si penghafal melafalkan kembali dalam ujaran. Tingkat kesalahan dari menghafal yang berasal dari teks mungkin relatif kecil. Meskipun demikian, bukankah otak manusia mempunyai batasan juga, jadi tetap memiliki peluang untuk salah juga.
Nah, menghafal dengan cara kedua (face to face), mungkin bisa juga dipadankan dengan istilah talaqqi, yang mana seorang murid menyetorkan bacaan hafalan di hadapan sang guru. Yang perlu dikritisi (jika boleh) di sini adalah bahwa dalam proses menghafal talaqqi ini, tidak melalui proses siswa menulis apa yang didengarnya. Jadi hanya guru membaca-siswa mendengar, kemudian siswa mengulang bacaan-guru mendengarkan. Koreksi dari guru (tashih) hanya melalui media membaca dan mendengarkan. Bukankah ada celah kesalahan di sini? Bisa dari faktor guru ataupun murid.

Masih tentang cara menghafal yang kedua (face to face) ada kalanya pula hanya melewati satu proses saja yaitu ‘guru membacakan – siswa mendengarkan’. Kemudian dari hasil mendengarkan itu, sang murid menghafalkan dan mempergunakannya langsung, tanpa melewati proses tashih ‘siswa membacakan – guru mendengarkan’. Sehingga celah kesalahan informsi (hafalan) siswa menjadi lebih besar. Sebagai contoh mudahnya, proses terakhir ini mungkin seperti proses bernyanyi atau menghafal doa di bangku Playgroup atau Taman Kanak-Kanak. Tidak ada proses tashih guru atas bacaan siswa, lebih lagi proses koreksi tulisan siswa dari bacaan doa yang diajarkan guru, karena memang siswa umur PG/ TK belum berkewajiban menuliskan.

Pada akhirnya, saat menemukan imam yang bacaannya kurang fasih, banyak salah di panjang pendeknya, makhrajnya, kurang redaksinya, nada dan intonsi yang dipaksakan, pikiran nakal saya seakan-akan mengatakan (maaf) “barangkali sistem hafalan imam serupa adik-adik PG/TK”.
Model pembelajaran ‘dikte’ (imla’) meskipun terkesan tradisional, ternyata dapat berperan penting dalam ketuntasan pembelajaran bahasa.
(Moch. Lukluil Maknun)